Senin, 24 Juli 2006

Bupati Humbahas, Bupati Nias Selatan, Bupati Nias Mendukung Pembentukan Propinsi Tapanuli

Medan (SIB)

Ketua Umum Dewan Penasehat Panitia Pembentukan Propinsi Tapanuli DR GM Panggabean meminta Panitia dapat bekerja lebih keras untuk dapat mewujudkan terbentuknya segera Propinsi Tapanuli, memperhatikan di tengah-tengah masyarakat pada dewasa ini mulai timbul rasa kurang sabar dan desakan untuk terbentuknya Propinsi Tapanuli tersebut semakin menggebu-gebu. Seperti Gamki (Gerakan Angkatan Muda Kristen) Sumut telah menetapkan limit waktu, agar Propinsi Tapanuli dapat terealisasi akhir tahun ini juga.

Mahasiswa Universitas Katolik (Unika) St Thomas Medan juga sudah menyatakan mendukung, dan siap “action” apabila diperlukan. Pak GM mengharapkan, setelah Tim Gabungan untuk pembentukan Propinsi Tapanuli tersebut terbentuk baru-baru ini, yang diketuai Sekda Propinsi Sumatera Utara, diharapkan pekerjaan Panitia dapat berjalan lebih cepat dan bukan sebaliknya. Pak GM juga memberi informasi kepada Panitia, Bupati Humbahas Drs Maddin Sihombing telah menyatakan mendukung terbentuknya Propinsi Tapanuli, namun beliau mempertanyakan soal ibukotanya.

Bupati Nias Selatan Fahuwusa Laia SH MHum, juga sudah menyatakan mendukung, sedang Bupati Nias Binahati B Baeha SH sudah sejak awal menyatakan mendukung, maka Panitia sebenarnya tinggal “jemput bola”. Oleh karena itu Pak GM minta agar Panitia menetapkan jadwal, kapan dan siapa berangkat ke Humbahas, Nias, Nias Selatan, Dairi dan Pakpak Bharat.

Namun Pak GM melihat, akan lebih efisien sekiranya pihak Pempropsu berkenan mengundang Bupati/Walikota terkait ke Medan untuk membicarakannya. Hal itu dikemukakan kepada Panitia ketika datang berkunjung ke Kantor SIB, Sabtu (22/7) kemaren. Lebih rinci, Pak GM menjelaskan, waktu Wapres Jusuf Kalla meresmikan dimulainya pembangunan Bandara di Kuala Namu, baru-baru ini, semua Bupati dan Walikota hadir. Pak GM bertemu dengan Bupati Nias Selatan Fahuwusa Laia SH MHum dan Bupati pada waktu itu dengan jelas mengatakan kepada Pak GM, beliau mendukung pembentukan Propinsi Tapanuli dan siap rekomendasi dukungannya.

Ketika Presiden SBY datang ke Medan menghadiri suatu upacara di Gubernuran Medan beberapa hari yang lalu, meresmikan penyerahan rumah untuk korban tsunami di Madina dan mencanangkan pembangunan 5 proyek strategis di Sumut, juga semua Bupati dan Walikota hadir. Pada saat itulah Bupati Humbahas Drs Maddin Sihombing mengatakan kepada Pak Lundu Panjaitan SH dan Pak GM, bahwa beliau mendukung pembentukan Propinsi Tapanuli namun menanyakan di mana nanti ibukotanya. Ketika itu Pak Lundu memberikan saran, agar Bupati dalam surat dukungannya dapat membuat saran dan usul ibukota yang diinginkannya untuk bahan pertimbangan lebih lanjut.

Kalau Bupati Nias Binahati B Baeha SH seperti diketahui sudah sejak awal menyatakan mendukung. Dalam pertemuan Panitia Pemrakarsa Pembentukan Propinsi Tapanuli dengan DR GM Panggabean Sabtu kemaren, hadir anggota tim penasehat Lundu Panjaitan SH, Ketua Umum Panitia Manaor Silitonga, Sanggam SH Bakara (Wakil Ketua), Ir Hasudungan Butar-butar (Sekretaris), HR Sitanggang (Wakil Ketua), Ir Saut MP Simbolon IP MBA (Wakil Ketua), Jumokkas Hutagaol (Wakil Ketua) dan Aliozisokhi Fau SPd (anggota DPRD Sumut).Dalam pertemuan itu kemudian diputuskan pembagian tim untuk mendatangi daerah yang belum memberikan rekomendasi pembentukan Propinsi Tapanuli. Disepakati pula menurunkan tim untuk menjemput surat rekomendasi dukungan dari Bupati Humbahas yang akan dipimpin langsung oleh Ketua Umum Panitia Manaor Silitonga didampingi Ketua Sanggam SH Bakara dan Ir Hasudungan Butar-butar.

Tim ini akan berangkat dari Medan hari Minggu dan diharapkan Senin pagi (24/7) telah tiba di Kantor Bupati Humbahas.Keberangkatan ke Nias, akan disesuaikan dengan keberangkatan anggota-anggota DPRDSU asal pemilihan Nias yang akan kunker ke Nias dalam waktu dekat ini. Jadwal ke Dairi dan Pakpak Bharat juga akan ditetapkan sesegera mungkin. Perlu dikabarkan, Bupati Dairi DR Master Tumanggor juga menyatakan mendukung, namun meminta agar Panitia dapat turun ke Dairi untuk menjajagi pendapat masyarakat setempat. Dalam pertemuan dengan Pak GM Sabtu kemaren, anggota DPRD Sumut dari daerah pemilihan Nias Aliozisokhi Fau SPd menegaskan elemen kemasyarakatan di Nias dan Nisel tetap mendukung dan siap bergabung ke Propinsi Tapanuli. Bahkan, 5 anggota DPRD Sumut asal Nias, termasuk dirinya menyatakan siap bergabung dalam Panitia Pemrakarsa Pembentukan Propinsi Tapanuli.

Selain berjuang dengan menyatukan dukungan dari elemen kemasyarakatan dan Pemkab/Pemko serta DPRD, Panitia juga tetap memperlengkapi berbagai persyaratan yang dibutuhkan untuk kelayakan penilaian.Dalam pertemuan yang berlangsung selama 2½ jam, kelihatan semua pengurus Panitia tetap bersemangat dan telah dirumuskan untuk ditindaklanjuti lebih lanjut. (A2/R1/d)

Sumber: harian SIB Online, 24 Juli 2006



Jumat, 21 Juli 2006

100 Kabupaten Masuk Kategori Rawan Pangan

Medan (Kompas):

Pemetaan yang dilakukan Badan Ketahanan Pangan bersama World Food Programme di 165 kabupaten di Indonesia menunjukkan, ada 100 kabupaten yang masuk kategori rawan pangan. Bahkan, 30 di antaranya masuk kategori sangat rawan pangan.


Badan Ketahanan Pangan membagi tiga daerah rawan pangan dalam skala prioritas. Prioritas pertama, kabupaten sangat rawan pangan (30). Prioritas kedua, kabupaten rawan pangan (30). Prioritas ketiga, daerah yang dianggap memiliki ketahanan pangan yang cukup (40).


Daerah yang masuk rawan pangan kebanyakan berada di luar Pulau Jawa, terutama di wilayah Indonesia timur, seperti Nusa Tengggara Timur dan Papua.

Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian Kaman Nainggolan, saat menghadiri Rapat Koordinasi Peningkatan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara di Medan, Kamis (20/7), Badan Ketahanan Pangan tengah berupaya mengatasi masalah kerawanan pangan melalui program Aksi Desa Mandiri Pangan.

”Kemiskinan dan ketahanan pangan merupakan sebab dan dampak. Sebagian rumah tangga miskin berada di pedesaan dan menggantungkan sebagian besar kehidupannya dari kegiatan pertanian. Perwujudan ketahanan pangan nasional secara strategis harus dimulai dari wilayah terkecil, yakni pedesaan sebagai basis kegiatan pertanian,” ujarnya.

Khusus untuk wilayah Sumatera Utara (Sumut), kata Kaman, ada satu daerah yang dikategorikan sangat rawan pangan, yakni Kabupaten Nias.

Kaman juga mengungkapkan, paradigma ketahanan pangan saat ini lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat. Kreativitas dan kualitas sumber daya manusia dalam mengelola potensi yang dimilikinya sangat menentukan keberhasilan.


Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam merumuskan program ketahanan pangan di lapangan. Salah satunya, kata Kaman, program tidak lagi terfokus pada peningkatan komoditas seperti beras dan menahan laju alih fungsi pertanian, tetapi juga menjaga kualitas lahan dan air. (bil)


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0607/21/daerah/2824329.htm, Jumat, 21 Juli 2006

Minggu, 16 Juli 2006

Menilik Alam dan Budaya Eksotik Pulau Nias

JAKARTA (Investor Daily):

Ya’ahowu!! Ucapan salam ini langsung terdengar saat Anda mendarat di Bandar Udara Binaka, Gunung Sitoli, Nias.

Setiap hari, puluhan orang terlihat memadati Bandar Udara Binaka. Sejumlah turis asing pun tampak sibuk membenahi perlengkapan selancar mereka di sela aktivitas masyarakat lokal.

Pulau Nias yang berlokasi di sebelah barat Pulau Sumatera, sekitar 85 mil laut dari Kabupaten Tapanuli Tengah atau Kota Sibolga, menjadi surga selancar bagi para penggila surfing. Bagi penggemar ombak lautan dan peselancar, keindahan pantai Sorake dan Lagundri yang terletak di Kabupaten Nias Selatan (Nisel) menjadi tempat perburuan ketiga di dunia. Ombaknya yang lincah nan gesit, menjadi ciri khas pantai Sorake dan Lagundri. Para pelancong mancanegara telah lama menggandrungi kedua pantai itu. Meski letaknya terpencil, ternyata tidak memupuskan keinginan para peselancar professional. Mereka pun unjuk kebolehan sekaligus menguji ketangkasan di atas papan selancar.

Wilayah Pantai Sorake dan Lagundri masuk wilayah Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nisel. Meski tinggal di daerah wisata, kehidupan masyarakat setempat tidak seperti umumnya warga yang bermukim di pulau-pulau eksotik lainnya.

Dalam suatu diskusi panel bertajuk Aramba yang digelar oleh Public Information Centre (PIC) Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Perwakilan Nias di Omo Bale Museum Pusaka Nias, baru-baru ini, beberapa elemen masyarakat menyatakan, penduduk asli Nias adalah sokhi, yang berarti baik. Menurut sesepuh adat Nias, ami li moroi ba go juga sudah mendarah daging di masyarakat asli Nias. Dengan kata lain, ucapan atau sapaan lebih berharga bagi masyarakat asli Nias, ketimbang makanan yang paling enak.

Berdasarkan survei Kementerian Lingkungan Hidup pada 1987, masyarakat Nias setidaknya memiliki tujuh karaketristik khas. Ketujuh karakter itu antara lain, mereka masih percaya pada roh dan kekuatan gaib. Warga Nias lebih mengedepankan prestise daripada prestasi. Mereka sulit menerima hal baru sehingga hal-hal baru dianggap tabu. Penduduk Nias lebih mengutamakan kepentingan kelompok atau solidaritas kekerabatan ketimbang kepentingan umum. Orang Nias lebih senang menerima daripada memberi. “Masyarakat Nias juga bude-bude atau kurang gemar berterus terang,” kata Melkhior Duha, ketua Badan Pemberdayaan dan Warisan Nias.

Melihat karakteristik tersebut, tak mengherankan jika situs megalitikum prasejarah masih tampak berdiri megah di Kecamatan Gomo. Situs itu diperkirakan telah berdiri lebih dari 3.000 tahun dan diyakini sebagai daerah awal mula penyebaran penduduk Pulau Nias. Perkampungan dengan rumah-rumah tradisional tampak masih utuh, asli, dan berdiri kokoh. Hal itu bisa dijumpai di Desa Bawomataluo dan Hilisimaetano. Tempat itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong.

Satu-satunya rumah adat paling besar di Nisel terdapat di Desa Bawomataluo. Di Omo Sebua yang memiliki ukuran luas 300 meter ini banyak terdapat benda-benda dan ornamen. Benda-benda itu antara lain genderang perang berukuran besar, alat-alat perang, kepala rusa dan monyet, ukiran-ukiran patung dan rahang babi. Yang pasti, setiap benda tersebut memiliki nilai sejarah dan telah berusia ratusan tahun. Omo Sebua yang diperkirakan berusia 160 tahun, telah dihuni oleh beberap generasi. Selain digunakan untuk pertemuan para Si Ulu (golongan bangsawan) dan Si Ila, rumah adat besar itu dipakai untuk yang meletakkan jenasah para bangsawan. Keunikan lainnya yang terdapat di Desa Bawomataluo adalah budaya tarian perang dan lompat batu.

Karena keunikan budayanya, pada 2004, World Monument Fund melalui hasil penelitian UNESCO, menetapkan Omo Hada (rumah adat) di Desa Hilinawalo Mazingo, sebagai salah satu dari 100 situs dunia yang harus dilestarikan, seperti halnya Candi Borobudur, Taman Sari di Yogyakarta, dan Tanah Lot di Bali.

Keunikan lainnya adalah adat istiadat masyarakat Nias yang harus mengonsumsi daging babi tatkala menggelar prosesi kelahiran, perkawinan, kematian ataupun mangowasa (membuat atau menobatkan gelar adat) balugu (gelar adat Nias tertinggi).

Sejak 1960-an, Kabupaten Nias yang beribukota di Gunungsitoli memang terkenal sebagai penghasil ternak babi yang sangat besar. Bahkan, hasil ternak mereka dapat dijumpai pula di Singapura. Berternak babi merupakan usaha yang sangat terkait dengan adat istiadat di Kabupaten Nias.

Usaha pertanian tanaman pangan juga merupakan mata pencarian pokok penduduk Nias. Hasil pertanian mereka antara lain produksi tanaman pangan, seperti padi, palawija, dan hortikultura. Sebagian atau seluruh hasil pertanian itu dijual atau untuk menunjang kehidupan dan menanggung risiko. Komoditas andalan Kabupaten Nias lainnya adalah nilam. Komoditas nilam sempat mengalami booming pada 1997 hingga pertengahan 2000. Saat itu, harga minyak nilam pernah mencapai Rp 1,2 juta per kilogram. Ketika itu, kesejahteraan petani nilam di Kabupaten Nias sangat tinggi.

Pulau Nias juga memiliki potensi ikan luar biasa, baik ikan untuk dikonsumsi maupun ikan hias. Terdiri atas 132 pulau besar dan kecil, Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan menyimpan aneka ragam kekayaan sumber daya laut.

Terletak di sekitar garis khatulistiwa, rata-rata curah hujan di Kepulauan Nias cukup tinggi, yakni 260,00 mm per tahun. Akibat banyaknya curah hujan, kondisi alamnya pun sangat lembab dan basah. Musim hujan dan kemarau silih berganti dalam setahun.

Keadaan iklim di kepualuan Nias juga dipengaruhi oleh Samudera India. Suhu udara berkisar antara 17o / 32,6o dengan kelembaban sekitar 80 - 90% dan kecepatan angin antara 5-6 knot per jam. Musim badai laut biasanya berkisar September sampai November, tetapi kadang terjadi badai pada Agustus. Namun, cuaca bisa berubah secara mendadak.

Rekonstruksi Pascagempa

Pulau Nias merupakan daerah yang terletak di salah satu area aktivitas seismik terbesar di dunia. Menurut Dick Beetham, ahli geologi dan gempa bumi dari Selandia Baru yang saat ini bertugas di BRR dan UNDP Nias, sepanjang 100 kilometer di arah barat Nias tepatnya di dasar laut sepanjang Sumatera dan Jawa, merupakan batas lempeng tektonik. Daerah itu merupakan lempeng India-Australia yang tengah bersubduksi di bawah Sumatera dan Jawa dengan lokasi di tepian lempeng Eurasia. Rata-rata gerakan relatif dari dua lempeng tektonik tersebut adalah 60 mm per tahun.

Umumnya, lempeng-lempeng tersebut terkunci. Tekanannya bisa memunculkan suatu titik. Implikasinya, lempeng penghubung akan putus secara tiba-tiba dan menimbulkan gempa bumi dashyat.

Musibah bencana alam tsunami yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 26 Desember 2004 dan gempa di Nias pada 28 Maret 2006, akibat bagian terdekat dari lempeng penghubung tiba-tiba putus atau lepas.

Bencana dashyat di Pulau Nias memberikan hikmah tersendiri bagi masyarakat Nias. Mereka menjadi terbuka bagi dunia internasional. Berbagai bantuan datang silih berganti dari negara-negara donor dan lembaga swadaya masyarakat LSM). Build back better pun dilakukan oleh BRR yang menetapkan anggaran Rp 10 triliun untuk pengembangan pulau Nias. “Kami ingin membangun Nias lebih baik,” kata William Sabandar, kepala kantor perwakilan BRR Nias.

Seiring dengan derap rekonstruksi Nias, BRR juga melaksanakan proyek jalan masuk ke Pantai Sorake dan Lagundri. Bersama dengan organisasi Yayasan Peduli Pantai Sorake (YPPS) dan SurfAid, tengah diusahakan pula pembersihan dan penanaman pohon mahoni serta cemara laut di sepanjang pantai dan jalan ke Sorake.

Untuk rehabilitasi rumah adat, khususnya di Kabupaten Nias dialokasikan bagi 50 unit rumah. Demikian juga di Nias Selatan (Nisel). Anggaran setiap unit rumah adat ditetapkan sebesar Rp 20 juta dengan total anggaran senilai Rp 2 miliar. Salah satu program rehabilitasi rumah adat yang berlokasi di Nisel, juga termasuk sebuah Omo Sebua di desa Bawamataluo yang sudah menjadi salah satu situs sejarah.

BRR juga akan merevitalisasi kebudayaan Nias yang sudah lama tidak dilaksanakan, yang disebut fondrako atau musyawarah adat baik di Nias maupun Nisel. Fondrako merupakan musyawarah adat Nias tertua yang menghasilkan beberapa ketentuan dan aturan menyangkut ketenteraman dan aspek kehidupan masyarakat.

Selain rencana pelaksanaan musyawarah adat fondrako, BRR akan merealisasikan satu program pembentukan pusat studi bahasa, seni, dan adat Nias. Pembentukan pusat studi ini diharapkan mendokumentasikan hal-hal yang berhubungan dengan bahasa, seni, dan adat istiadat Nias.

Di bidang kesenian tradisional, BRR menyediakan beberapa perangkat alat musik tradisional seperti lagia, doli-doli, tutuhao, fondrabi, aramba (gong) sekaligus faritia. Aramba dan faritia merupakan alat musik yang digunakan pada upacara adat Nias. Demi melestarikan alat musik tradisional, BRR akan mengupayakan pembinaan terhadap pengrajin lokal. Saat ini, para pengrajin alat musik aramba dan faritia hanya menggunakan bahan baku lempengan besi dengan cara memukul. Dulu, mereka membuat aramba dan faritia dengan melebur besi dan mencetaknya dalam cetakan khusus.

Pelestarian situs budaya pun tak luput dari program BRR. Untuk pelestarian situs budaya, direncanakan lokasinya di Kecamatan Gomo dan Lolowau. Sektor pariwisata di Nias dan Nisel, juga masuk dalam total angaran proyek BRR pada 2006. Di Nias direncanakan pada tiga lokasi dan Nisel satu lokasi yang akan dikembangkan, yaitu pantai Lagundri dan pantai Sorake. Nah, sudah saatnya Anda menjelajahi keindahan Pulau Nias ! (yip)

Sumber: http://www.investorindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=10420, Sabtu, 15 Juli 2006

Rabu, 12 Juli 2006

Para Korban Selamat Mengakui Kapal Overload, Diminta Diusut

Gunungsitoli (SIB)

PT Jasa Raharja Gunungsitoli Nias dan PT Jasa Raharja Putra Sibolga menyerahkan dana santunan kecelakaan penumpang Kapal Motor Surya Makmur Indah yang tenggelam pada tanggal 20 Juni 2006 di Perairan Sibolga, Selasa 11 Juli 2006 di ruang rapat Bupati Nias Jalan Pancasila No 14 Gunungsitoli.

Acara penyerahan tersebut dihadiri oleh Bupati Nias Binahati B Baeha SH, Wakil Bupati Nias Temazaro Harefa, Kepala Badan Kesbang Kabupaten Nias AA Gulo SH, Kepala PT Jasa Raharja Gunungsitoli Kader Zebua SSos, serta Kepala PT Raharja Putra Sibolga Indra S Pulungan.

Para ahli waris yang menerima dana santunan terdiri dari korban 1. Desriang Hura, ahli warisnya orangtua bernama Ramida Zai, 2. Naami Gulo alias Yuni Gulo ahli warisnya suami bernama Alisandre Waruwu, 3. Dermawan Saleh Chaniago ahli warisnya istri bernama Siti Sarah Baeha, 4. Alexsander Martinus Harefa ahli warisnya orangtua bernama Samiadi Mendrofa dan 5. Korban Yuliasa Gulo sebagai ahli warisnya bernama Hezisokhi Gulo.

Kepala PT Jasa Raharja Gunungsitoli Kader Zebua SSos, didampingi Kepala PT
Jasa Raharja Putra Sibolga Indra S Pulungan kepada SIB mengatakan yang diberikan dana santunan hanya para korban yang telah ditemukan mayatnya,
dan yang merupakan penumpang resmi yang telah terdaftar sebagai penumpang
KM SMI yang tenggelam tanggal 22 Juni 2006 dengan perincian dana santunan
tersebut sebesar Rp15.000.000/korban, dengan sumber dari PT Jasa Raharja (Persero) sebesar Rp 10.000.000 dan PT Jasa Raharja Putra sebesar Rp 5.000.000.

Maka jumlah yang diserahkan Selasa (11/7) kepada keluarga korban/ahli waris berjumlah Rp 75.000.000 dan kepada yang resmi penumpang yang belum ditemukan belum dilakukan pembayaran, kata Kader Zebua SSos.

Penumpang yang tidak terdaftar, pihak PT Jasa Raharja dan PT Jasa Raharja Putra menyatakan tidak akan diberikan dana santunan kecelakaan.

Sementara pengacara dari LBH Bakti Nusantara Sehati Halawa SH, mengatakan
pihak asuransi Jasa Raharja tidak disalahkan, tetapi pemilik kapal KM SMI dan pihak Syahbandar di Sibolga harus bertanggungjawab atas musibah tersebut karena terjadi pelanggaran terhadap muatan kapal.

Korban yang selamat bernama Harun, pengusaha kain di Gunungsitoli menyebutkan penyebab kapal motor Surya Makmur Indah tenggelam tanggal 22
Juni 2006 dikarenakan jumlah penumpang lebih dari 150 orang dan overload
muatan.

Muatan kapal berupa pupuk, beras, sayur-sayuran dan 9 unit kendaraan roda dua yang dibawa oleh KM SMI, sehingga pada saat kapal dihajar badai tidak bisa terangkat karena muatan berat bahkan tenggelam.

Akibat kejadian ini kami harapkan kiranya pihak aparat melakukan pengusutan terhadap pengusaha kapal dan termasuk Nakhoda karena melakukan pelanggaran pemuatan barang yang tidak seharusnya dilakukan karena KM SMI merupakan kapal spesial penumpang, bukan kapal barang, harap para korban kepada SIB. (LZ/l)

Sumber: Harian SIB 12 Juli 2005