Jumat, 30 Desember 2005

DPRDSU: Lambannya Keluar SP3 Kasus Bupati Nias Sarat Muatan POlitis


Medan (SIB)

Ketua Fraksi PDS (Partai Damai Sejahtera) DPRD Sumut DR (HC) Drs Toga Sianturi menilai, lambannya keluar SP3 (Surat Penghentian Penyi­dikan Perkara) kasus tuduhan korupsi dana PSDA (Provisi Sumber Daya Alam) sebesar Rp2,3 miliar terhadap Bupati Nias Binahati B Baeha SH, oleh Kajatisu sarat muatan politis dan diduga ada ‘pesanan sponsor’ untuk mengganjal Binahati maju menjadi calon Pilkada Nias.

“Tidak tertutup kemungkinan masalah Bupati Nias ini sengaja dipolitisir oleh kelompok-kelompok tertentu demi kepentingan segelin­tir oknum maupun golongan menjelang Pilkadasung di Kabupaten Nias. Bahkan diduga ada pesanan sponsor untuk menghadang majunya Binahati dalam pencalonan,” ujar Toga Sianturi kepada wartawan, Kamis (29/12) di DPRD Sumut.

Jika kasus ini murni penegakan hukum, ujar mantan Pamen Polri ini, sudah seharusnya Kajatisu mengeluarkan SP3 tersebut, sebab berda­sarkan audit total BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) terhadap penggunaan dana PSDA di sektor kehutanan itu, tidak ada ditemukan bukti-bukti penyelewengan maupun kerugian negara.

Dalam kaitan ini, kata Toga Sianturi, kalangan anggota legislatif merasa heran, kenapa Kajatisu belum mengeluarkan SP3-nya, apakah sengaja ‘menggantung-gantung’ status hukum Binahati atau ingin mengha­langinya maju mencalonkan diri dalam Pilkadasung yang akan berlangsung di Kabupaten Nias.

“Selaku aparat penegak hukum hendaknya Kajatisu melihat kasus ini secara objektif, apalagi auditor BPK menyatakan penggunaan dana PSDA yang bersumber dari APBD Nias ini telah sesuai dengan peruntukannya dan telah dipertanggungjawabkan dalam paripurna DPRD Nias melalui LPj Bupati dan jelas tidak ada unsur korupsi seperti yang dituduhkan lawan-lawan politiknya,” ujar Toga yang juga mantal Dir Intelkam Poldasu itu.

Toga juga mengungkapkan rasa herannya, bahwa Kejatisu telah melakukan pemeriksaan terhadap Bupati Nias berulang-ulang, tapi hingga kini tidak ada ‘ujung pangkalnya’ alias tidak ada kepastian hukumnya, apakah Binahati bersalah atau tidak menjadi pertanyaan besar bagi publik.

“Jika Binahati tidak terbukti melakukan tindak pidana korupsi seperti yang disampaikan BPK, kenapa Kajatisu tidak mengeluarkan SP3-nya, ada apa ini,” ujar Toga Sianturi sembari menambahkan, jangan sampai masyarakat menilai oknum-oknum di Kejatisu menjadikan kasus korupsi para pejabat sebagai ‘sumber aspirasi’.

Dalam kasus ini Toga Sianturi bukan membela Bupati Nias, tapi menegakkan hukum dan menyuarakan ‘suara kebenaran’, sebab sangat tidak etis, jika orang yang tidak bersalah dituduh mengkorupsi uang negara, akibatnya bukan Binahati saja yang tersiksa, tapi juga harga diri keluarganya ikut ‘diinjak-injak’ oknum yang memiliki kepentingan tertentu.

“Kita harapkan Kejatisu bersikap arif dan bijaksana dengan segera mengeluarkan SP3 terhadap kasus yang menimpa Bupati Nias tersebut, sebab dengan tidak adanya kepastian hukum, membuat Binahati bersama keluarganya menjadi teraniaya dan telah dihukum publik,” katanya.

Padahal, ujar anggota Komisi B ini, negara Indonesia menganut sistem perundang-undangan azas praduga tak bersalah dan lebih baik melepaskan seribu orang yang bersalah, ketimbang menghukum seorang yang tidak bersalah. (A13/d)
Sumber: hariansib Online, Jum'at, 30 Desember 2005

Komitmen Sumut Rendah


Medan (Kompas)
Komitmen Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara terhadap pendidikan masih rendah. Pembiayaan pendidikan, baik dari APBN maupun APBD, belum mencapai 20 persen sebagaimana diamanatkan UUD 1945. Akibatnya, masyarakat menanggung beban berat sehingga 1,24 juta anak dari berbagai jenjang pendidikan mengalami putus sekolah.

Pemerintah bahkan tidak serius meningkatkan mutu pendidikan. Ada sekolah yang digusur untuk dijadikan pusat perbelanjaan. Kekurangan guru hampir terjadi di setiap sekolah dan daerah. Ironisnya, partisipasi masyarakat dalam pendidikan alternatif dipandang sebelah mata.

Kenyataan itu diungkapkan aktivis sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang tergabung dalam Jaringan Advokasi Pendidikan Sumatera Utara, Kamis (29/12) di Medan.

Veryanto dari Perkumpulan Peduli menyatakan ada sejumlah kabupaten/kota yang anggaran pendidikannya lebih dari 20 persen, namun belanja aparatur lebih besar daripada belanja publik. Meningkatnya belanja publik disebabkan pos yang sebelumnya merupakan belanja aparatur dipindahkan ke publik sehingga terkesan memprioritaskan publik, tuturnya.

Tentang anggaran pendidikan dalam APBD, Elfenda dari Fitra Sumut menambahkan, enam kabupaten/kota yang persentasenya di atas 20 persen antara lain Simalungun 53 persen dan Karo 42 persen. Tetapi, struktur belanja rata-rata untuk anggaran pendidikan, 73 persen untuk administrasi umum, baik aparatur maupun publik, katanya. (NAL)
Sumber: KOmpas Online, Jum'at, 30 Desember 2005

Gunung Sitoli Kembali Digoyang Gempa

Jakarta (Kapanlagi.com)
Kota Gunung Sitoli, Sumatera Utara, Kamis sore pukul 17.35 WIB kembali digoyang gempa berkekuatan 4,8 Skala Richter (SR), dan belum ada laporan kerusakan akibat gempa tersebut.

Kepala Sub Bidang Perencanaan Jasa Badan Metereologi Gefisika (BMG) Wilayah I Sumut Heron Tarigan melalui stafnya Teguh-- ketika dikonfirmasi ANTARA di Medan, membenarkan gempa yang terjadi di Gunung Sitoli itu.

Menurut dia, gempa tersebut berada di sekitar 1,4 Lintang Utara (LU), 97,3 Bujur Timur (BT), dengan kedalaman mencapai 33 Kilometer.


"Gempa yang terjadi di Pantai Barat Sumatera itu berada di darat atau 35 Kilometer Barat Daya Gunung Sitoli," ujarnya.

Ketika ditanya apakah getaran gempa di Gunung Sitoli dirasakan oleh warga, ia mengatakan, sampai saat belum ada laporan yang diterima dari masyarakat di daerah setempat.

"Petugas BMG Wilayah I Sumut terus memantau setiap perkembangan terjadinya gempa di wilayah tersebut," katanya. (*/rit)
Sumber: Detik.com, Jum'at, 30 Desember 2005

Korban Bencana Nias Minta Wapres Realisasikan Jadup


Gunungsitoli, WASPADA Online

Lembaga Komunitas Independen (KOMID SBY) Kab. Nias meminta Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla segera merealisasikan pencairan dana jatah hidup (Jadup) bagi korban bencana gempa yang pernah dijanjikan saat berkunjung di Nias, hingga sekarang belum pernah diterima.
Permintaan itu disampaikan Ketua Lembaga KOMID SBY Kab. Nias, Petrus S. Gulo, SE kepada Waspada, Kamis (29/12) di Gunungsitoli Nias menyikapi keluhan masyarakat Nias korban gempa yang sampai sekarang belum pernah menerima Jadup yang dijanjikan Wapres.

Dikatakan Petrus, memasuki bulan ke-9 pasca gempa di Nias, korban gempa Nias belum pernah menerima yang namanya Jadup. Janji Wapres merupakan utang negara kepada korban bencana di Nias. “Karena itu, yang namanya janji harus ditepati demi menjaga kepercayaan rakyat kepada pemerintah RI.”

Jadup yang dijanjikan kepada korban bencana di Nias besarnya Rp3000/jiwa perhari sangat diharapkan, apa lagi saat ini merupakan momentum yang sangat baik sekali untuk menunjukkan kepedulian pemerintah pusat kepada rakyatnya yang akan merayakan hari Natal dan Tahun Baru.

“Dibanding dengan daerah lain yang terkena bencana seperti Aceh, Jadup sudah lama dibayarkan. Justru yang menjadi pertanyaan, kenapa di Nias belum dibayarkan, apakah korban bencana di Nias dianaktirikan pemerintah,” tanya Petrus.

Lembaga KOMID SBY Kab. Nias meminta kepada Wapres menjelaskan kepada publik tentang Jadup yang masih belum diterima korban bencana Nias. Para korban bencana di Nias meminta kejelasan tentang pembayaran jadup ini, termasuk jumlahnya karena hingga kini masih simpang siur informasi yang beredar ditengah masyarakat Nias.

Dalam pertemuan DPRD Nias saat menerima delegasi korban bencana gempa yang menyampaikan keluhannya belum lama ini, diungkapkan bahwa Departemen Sosial RI telah mencairkan dana jadup tersebut melalui Dinas Sosial Sumut. Setiap kali dipertanyakan kepada Pemkab Nias mengenai jadup, jawabannya selalu mengaku dana tersebut belum diterima.

Masyarakat Nias mulai menduga-duga, jika memang benar dana tersebut sudah disalurkan kepada Dinas Sosial Sumut dan tertahan disana dan dikaitkan dengan oknum Kadis Sosial Sumut yang juga mencalonkan diri menjadi calon bupati pada Pilkada Nias 2006, maka patut diduga jangan-jangan dana tersebut sengaja disimpan di bank yang dapat dipergunakan dalam Pilkada.

“Jika hal ini benar, sangat disayangkan Kadis Sosial Sumut yang menjadi calon bupati Nias melakukan pembohongan kepada masyarakat Nias. Bagaimana lagi jika terpilih menjadi pemimpin Nias,” tandas Petrus.

Sehubungan dengan itu Lembaga KOMID SBY Kab. Nias, meminta kepada Dinas Sosial Sumut menjembatani pembayaran jadup sesegera mungkin kepada korban bencana gempa Nias untuk menghindarkan diri dari image masyarakat yang negatif. Kita berharap hal ini tidak dijadikan alat politisasi pada Pilkada, baik oleh balon lainnya pada Pilkada Nias, karena dana tersebut merupakan dana kemanusiaan kepada para korban bencana Nias. (cbj) (sn)
Sumber: WaspadaOnline, Jum'at, 30 Desember 2005

Kamis, 29 Desember 2005

Bupati Nias Binahari B Baeha SH Minta Dukungan Pimpinan Gereja di Kab Nias


Gunungsitoli (SIB)

Bupati Nias Binahati B Baeha membuka pertemuan Pimpinan Gereja se Kab Nias Rabu (28/12) bertempat di Gereja Gunungsitoli I yang diikuti 38 Pimpinan Gereja di Kabupaten Nias.

Bupati Nias Binahati B Baeha SH mengucapkan selamat Natal 25 Desember 2005 dan Selamat menyongsong Tahun Baru 1 Januari 2006.

Bupati Nias mengatakan pertemuan seperti itu merupakan salah satu sarana dan wahana bagi organisasi termasuk organisasi Gereja untuk menyatukan pemahaman dan pemikiran mengenai program dan kegiatan yang telah dan sedang dilaksankaan maupun yang akan dilaksanakan sehingga tercipta suatu sinergi yang kuat bagi pencapaian tujuan bersama. Khususnya bagi organisasi gereja tentu untuk membangun mental kerohanian jemaat dan peningkatan peran sosial gereja dalam kehidupan sosial. Diharapkan melalui pertemuan pimpinan gereja tersebut akan tercipta suatu komitmen yang kuat bagi peningkatan peran serta gereja dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Mengamati fenomena sosial masyarakat dunia sekarang ini kata Bupati, kita masih diperhadapkan pada berbagai gejolak yang kadang kala sepintas lalu tidak masuk akal. Dengan berbagai dalih memberikan argumentasi sebagai alasan pembenaran atas berbagai sikap dan tindakan. Namun di balik semua itu, ternyata sebahagian besar cenderung memiliki muatan dan nuansa kepentingan pribadi, kepentingan kelompok ataupun kepentingan golongan, dengan mengorbankan kepentingan orang atau kelompok lain yang lebih besar, berbagai bentuk ketidak puasan dilampiaskan dengan cara-cara yang kurang konstruktif, bahkan terkadang destruktif dengan sikap dan perbuatan yang saling menghujat, saling mengkhianati, saling menzalimi, saling memprovokasi, saling menekan, saling sebagainya.

Secara empiris, fenomena-fenomena seperti itulah yang merupakan bentuk-bentuk kekerasan terselubung yang kerapkali dilakonkan oleh sebahagian masyarakat kita. Bahkan terkadang tanpa kita sadari kita telah terjerumus dalam ruang lingkup kekerasan. Atas kepercayaan yang telah diberikan untuk menghadiri sekaligus menyampaikan sambutan pada pembukaan pertemuan pimpinan gereja se-kabupaten Nias tahun 2005, kami yakin dan percaya bahwa hal ini mencerminkan wujud kemitraan dan keharmonisan hubungan antara pemerintah dan gereja yang telah berlangsung dengan baik selama ini, kata Bupati.

Menghadapi berbagai fenomena sosial, gereja yang dikepalai oleh Kristus sebagai sumber kedamaian dituntut untuk mampu menjadi sumber transformasi, sumber pembaharuan melalui sentuhan kasih, dan peningkatan peran sertanya dalam kehidupan sosial masyarakat. Biarlah kehadiran gereja benar-benar menjadi terang dan garam bagi sesama dan lingkungan, yang mampu memberikan warna dan makna kedamaian sejati di tengah-tengah dunia,” ujar Binahati.

Bupati menambahkan, dikaitkan dengan kondisi warga Kabupaten Nias saat ini, barangkali belum lepas dari ingatan kita peristiwa bencana alam beruntun yang melanda wilayah Nias pada bulan Desember 2004 dan akhir Maret 2005 yang lalu. Bencana itu telah memporak-porandakan sebahagian wilayah kepulauan Nias bahkan merenggut korban jiwa yang tidak sedikit. Berdasarkan pandangan iman, maka hal itu semua telah menjadi kehendak Tuhan, namun lebih dari pada itu kita harus menyadari bahwa Tuhan punya rencana terbaik dalam kehidupan kita. Oleh karenanya kita jangan terlena dan terbuai dengan kesedihan. Mari kita bangun kembali semangat kehidupan baru yang diiringi dengan peningkatan kualitas iman, sehingga hidup baru yang kita dambakan dalam kehidupan keimanan kita menjadi kenyataan.

Berikutnya Bupati Nias mengutip tema Natal nasional tahun 2005 pada perayaan Natal bersama Nias dan Nisel dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 25 Desember 2005 yang lalu berbunyi : “Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau”. Tema ini singkat, namun mengandung kekuatan yang maha dahsyat. Tema ini kiranya menjadi inspirasi dalam menapak kehidupan kita ke depan untuk melakukan pembaharuan hidup Rohani kita dan seluruh warga. Bahwa dalam kondisi apapun kita tetap berserah diri kepada Tuhan maka dengan penuh keyakinan Tuhan pasti bersama dengan kita.

Sebagai Pimpinan Daerah Kab Nias, kami sampaikan bahwa beberapa waktu ke depan pemerintah Kab Nias sedang dan akan menyelenggarakan beberapa kegiatan penting yang membutuhkan peran serta seluruh komponen masyarakat termasuk gereja.

Kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Nias pasca bencana alam di Kab Nias, penyelenggara pemilihan kepala daerah secara langsung oleh KPUD tahun 2006. Organisasi gereja sebagai mitra kerja pemerintah sangat diharapkan dukungan dan peran sertanya untuk secara proaktif memberikan kontribusi pemikiran dalam mensukseskan kegiatan sekaligus kiranya dapat menjadi salah satu agenda dalam pertemuan pimpinan gereja saat ini.

“Kita sepakat bahwa pembaharuan dan perilaku masyarakat harus kita wujudkan secara bersama-sama, segala jenis dan bentuk kekerasan mari kita jauhkan dari diri kita melalui keteladan sikap, perilaku dan pola pikir yang berlandaskan kasih, biarlah gereja menjadi panutan dalam melakukan pembaharuan iman, dan biarlah kasih menjadi budaya hidup bagi setiap insan Kristiani.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, barang kali karena kesibukan tugas dan keterbatasan waktu, saya tidak dapat mengunjungi dan bertatap muka langsung dengan seluruh warga jemaat gereja-gereja di Kab Nias, maka bila mana berkenan melalui bapak/ibu pimpinan gereja, mohon kiranya dapat disampaikan salam saya sebagai Bupati Nias maupun atas nama keluarga mengucapkan selamat hari Natal 25 Desember 2005 dan selamat menyongsong Tahun Baru 1 Januari 2006,” kata Bupati Binahati.

Sementara itu, Ketua Panitia Drs Saroli Waruwu mengatakan, bahwa kegiatan pertemuan pimpinan gereja sekabupaten Nias dilaksanakan setiap tahun, namun keterbatasan dana menjadi kendala.

“Acara ini dapat diselenggarakan setelah kami memohon bantuan dari Bupati Nias Binahati B Baeha SH dan dia menyetujuinya sehingga acara pertemuan pimpinan gereja se Kab Nias dapat kita laksanakan, Rabu (28/12) yang diikuti seluruh pimpinan Gereja yang ada di Kabupaten Nias yang berjumlah sekitar 38 unsur Pimpinan Gereja,” katanya.

Sementara itu, Kandepag Kab Nias Aroziduhu Telaumbanua SH mengatakan, kita ucapkan terima kasih kepada Bupati Nias atas bantuan yang diberikan sehingga pertemuan pimpinan gereja di Kabupaten Nias dan Nisel dapat terlaksana, dan untuk itu kami harapkan kiranya kesempatan ini benar-benar dapat dimanfaatkan untuk membentuk satu forum komunikasi ini.

Acara pertemuan tersebut turut dihadiri seluruh pimpinan Gereja yang ada di Kabupaten Nias, Bupati Nias Binahati B Baeha SH Kandepag Aroziduhu Telaumbanua SH, Kasi Bimas Kristen Drs Saroli Waruwu, Wakil Ketua PGI Daerah Kab Nias FS Gea STh, Kasub Dokumentasi Dewi Lase SSos. (LZ/A14/e)
Sumber: HarianSib Online, Kamis, 29 Desember 2005

DPRDSU Terkejut, Oknum Aparat Persulit Masuk Bahan Material ke Nias


Medan (SIB)

Kalangan anggota DPRD Sumut dari Dapem (daerah pemilihan) Nias dan Nisel (Nias Selatan) merasa terkejut mendengar adanya oknum aparat mempersulit masuknya bahan-bahan material bangunan untuk berbagai proyek rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias pasca bencana tsunami.

Keterkejutan itu disampaikan Wakil Sekretaris F-PDIP DPRD Sumut Analisman Zaluckhu SSos dan anggota Komisi A Aliozisokhi Fau SPd kepada wartawan, Rabu (28/12) di DPRD Sumut seusai menerima pengaduan masyarakat tentang adanya oknum aparat yang mempersulit masuknya bahan material bangunan ke Nias.

“Kita merasa terkejut, masa ada oknum aparat yang sengaja memper­sulit masuknya bahan bangunan guna pembangunan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias pasca gempa tsunami. Bagaimana bisa BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) maupun NGO bisa membangun Nias tapat waktu, jika bahan bangunan masuk dihalang-halangi,” tanya Analisman Zalickhu.

Kasus ini, kata Analisman yang juga anggota Komisi D ini, dihar­apkan menjadi perhatian Kapoldasu untuk selanjutnya melakukan tindakan tegas terhadap oknum aparat yang sengaja memperulit masuknya bahan material tersebut, agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias dapat berjalan lancar.

“Kita juga sangat tidak setuju, jika bahan-bahan material memban­gun Nias menggunakan kayu-kayu hasil curian (illegal logging). Tapi jika kayu-kayu itu lengkap surat-suratnya, kenapa justru dipersulit. Ini ‘kan identik dengan menghambat pembangunan di Nias,” ujar Analis­man senada dengan Alio Fau.

Analisman sependapat dengan anggota Badan Pengawas BRR TB Silala­hi, bahwa keterlambatan BRR melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias salah satunya akibat terkendalanya pengadaan bahan baku untuk material kelengkapan objek pembangunan yang pengawasan masuknya bahan dari Sibolga ke Nias sangat ketat.

Untuk itu, kata Alio Fau, semua pihak diharapkan ikut membantu terselenggaranya proses rehabilitasi di Nias dan Nisel, jangan sampai mengganggu apalagi mempersulit pelaksanaan proyek yang dananya dari APBN, bantuan negara-negara asing maupun donatur tersebut, demi ma­syarakat yang telah ditimpa musibah.

“Sebenarnya masalah ini sangat sepele. Kenapa mesti di persulit kalau bisa dipermudah. Jika surat-surat maupun dokumen bahan material lengkap, jangan ditahan-tahan, kasihan kita melihat warga Nias yang hingga kini masih tetap mengungsi serta menetap di tenda-tenda darur­at,” jelas Analisman.(A13/d)
Sumber : HarianSib Online, Kamis, 29 Desember 2005

Masyarakat Nias Terancam ISPA, Diare Dan Malaria * Dinkes Sumut Turunkan Tim Medis

Gunungsitoli, WASPADA Online

Pasca terjadinya bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami, kini ribuan masyarakat Nias terancam Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare dan malaria. Hal ini disebabkan setiap sudut jalan berhamburan debu. Penyebab lain, masih banyaknya masyarakat korban gempa yang tidur di tenda-tenda darurat, baik yang berasal dari bantuan, maupun terpal yang dibuat sendiri oleh masyarakat.
Pengamatan Waspada, Rabu (28/12), setiap sudut jalan di Gunungsitoli bertebaran debu tebal berasal dari sisa-sisa reruntuhan bangunan serta proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang tidak kunjung selesai. Debu tebal menjadi persoalan baru bagi warga, setelah mereka menderita akibat gempa tahun lalu yang menewaskan ribuan warga. "Himpitan kesusahan seperti tak pernah habis-habisnya, kendati gempa sudah berlalu satu tahun," sebut seorang pengungsi.

Dia mengatakan, apa yang didengung-dengungkan para pejabat membantu masyarakat Nias, hingga saat ini belum tampak sedikitpun. Masyarakat masih sangat banyak yang tidur di tenda-tenda darurat seperti di Jl Pancasila Gunungsitoli, yang bersebelahan dengan kantor Bupati Nias.

Sementara hampir di seluruh ruas jalan debu bertebaran, mengancam kesehatan masyarakat seperti di Jl Sirao, Diponegoro, Gomo dan Jl Sudirman. Akibat debu tersebut, para pengendara khususnya sepedamotor dan pejalan kaki harus menutup hidung setiap melintasi kota Gunungsitoli.

Masyarakat yang berdomisili di sekitar jalan tersebut menjelaskan, kondisi ini sudah lama mereka alami, namun pemerintah daerah tidak mencarikan solusi. "Masalah ini sudah lama kami rasakan namun pemerintah Nias tidak memikirkannya," kata A. Lase, warga Jl Sudirman Gunungsitoli sambil menambahkan, dia dan beberapa anaknya mulai terserang batuk-batuk.

Hal senada dikatakan B. Telaumbanua, pengendara kendaraan roda dua. "Setiap hari, baik pergi maupun pulang kantor terpaksa menghirup debu karena masker tidak mampu menutupi hidung agar debu tak terhirup." Lase dan Telaumbanua mengharapkan pemerintah daerah Nias cepat turun tangan mengatasi permasalahan ini, sebelum menjadi permasalahan baru bagi pemerintah. "Saya menilai para pejabat Nias hanya memikirkan Pilkada. Bagaimana kami mau memilih mereka kalau Nias kacaubalau begini," keluh keduanya.

Tim Medis

Di tempat terpisah, Wakil Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr. H. Syaiful M. Sitompul yang dikonfirmasi Waspada mengatakan, selama ini Nias dikenal sebagai daerah endemis Malaria. Setelah terjadinya bencana alam sehingga masyarakat bermukim di tempat yang tidak layak huni seperti tenda darurat, kondisi masyarakat Nias menjadi lebih mengkhawatirkan. Pasalnya, lingkungan yang tidak bersih dapat menimbulkan penyakit diare dan ISPA.

Karena itu, lanjut Syaiful, sejak semula Dinas Kesehatan Sumut telah melakukan antisipasi dengan menurunkan tim medis ke daerah tersebut. Tim medis ini bertugas secara bergantian guna memantau situasi kesehatan korban bencana alam. "Jika ditemukan kasus-kasus penyakit yang menonjol, maka Dinas Kesehatan Sumut akan mengirimkan bantuan tambahan tenaga medis berikut obat-obatan," demikian Syaiful. (cbj/c25/m40)

Sumber: WaspadaOnline, Kamis, 29 Desember 2005

Rabu, 28 Desember 2005

BRR Aceh/Nias Harus Lebih Progesif


JAKARTA (MIOL)
Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh/Nias diingatkan harus bertindak progresif dalam membangun kembali Aceh dan Nias pascatsanami dengan lebih mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan-kepentingan lain yang sifatnya bias seperti kepentingan kelompok.
"Kalau BRR Aceh/Nias terindikasikan penyimpangan, aparat penegak hukum harus cepat bertindak tegas karena ini menyangkut kerja bersama yang menjadi kepedulian bukan saja dalam negeri tapi juga internasional," kata anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) HM Tamam Achda, di Jakarta, Selasa (27/12).
BRR Aceh/Nias, menurutnya, harus progresif dan tak perlu menunggu instruksi dari pusat, mengingat rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh/Nias adalah pekerjaan besar yang dilakukan secara bersama-sama.
Mengingat masih adanya ratusan pengungsi yang menempati barak dan tenda-tenda pengungsian, Achda berpendapat, rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh/Nias harus mempertimbangkan faktor waktu, karena mencakup wilayah yang luas dan korban/pengungsi yang demikian banyak.
Hal ini, menurutnya penting untuk mendorong segala upaya rekonstruksi fisik maupun non fisik mempertimbangkan faktor waktu. Meskipun demikian, pembangunan kembali Aceh/Nias tidak boleh keluar dari design tata ruang. Jadi harus lebih baik dari sebelumnya, ujarnya.
Apalagi, pembangunan kembali Aceh/Nias melibatkan banyak bidang, pakar dan ahli dari berbagai negara dengan biaya yang amat besar. "Maka kita heran jika pembangunan fisik Aceh/Nias nantinya tidak seperti yang kita harapkan," katanya.
Oleh karena itu, pembangunan kembali Aceh/Nias harus memperhatikan faktor lingkungan dan tata ruang, di samping kebudayaan. Bagi masyarakat Aceh, masalah kultur tak boleh diabaikan agar anak-anak Aceh/Nias tidak tercerabut dari kebudayaannya.
BRR Aceh/Nias juga diharapkan bisa berperan lebih bijak. Jika kondisi Aceh/Nias masih darurat maka masyarakat setempat harus dibantu makanan, kesehatan dan pendidikan. Namun diakui, untuk membantu pekerjaan, seperti membuka lapangan kerja baru, rasanya tidak mudah.
"Tapi yang perlu kita ingatkan, tidak mungkin masyarakat setempat akan tergantung terus kepada bantuan, karena jumlahnya yang tidak kecil," katanya menambahkan.
Ia mengharapkan, semua kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang bersifat fisik, seperti pembangunan gedung-gedung perkantoran dan perumahan, hendaknya memberikan peluang kepada masyarakat setempat. Mereka hendaknya terlibat di dalamnya, ini juga merupakan bentuk bantuan kepada masyarakat setempat. (Ant/OL-06)
Sumber: http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=85706

Tangkap Oknum Mahasiswa Pembuat Selebatan dan Cemarkan Nama Baik Bupati Nias


Medan (SIB)

Tim advokad HMK Aldian Pinem SH, Irwanta Rasmadhan SH, Suplin­ta Ginting SH, Pramudya EW Tarigan SH dan Rudiansyah Dharmawan SH selaku kuasa hukum Bupati Nias Binahati B Baeha SH, melalui surat tertanggal 22 Desember 2005 mengadukan kelompok yang mena­makan dirinya sebagai elemen mahasiswa kepada Kapoldasu, atas tuduhan melakukan fitnah dan pencemaran nama baik terhadap peja­bat negara yaitu Binahati B Baeha SH selaku Bupati Nias, dengan cara membuat selebaran yang yang isinya mengisukan Bupati Nias seolah-olah telah korupsi.

Menurut Aldian Pinem SH kepada wartawan di Medan, Jumat (23/12), pengaduan tertulis itu telah disampaikan ke Poldasu, Jumat (23/12) pagi, sedang untuk proses penyempurnaan penyidikan nantinya akan dilakukan langsung oleh Bupati Nias sekaligus untuk diperiksa di Mapoldasu, sekitar pengaduan atas pencemaran dan fitnah yang dilakukan elemen mahasiswa tersebut.

Dijelaskan Aldian Pinem, tindak pidana itu dilakukan kelompok mahasiswa dengan membuat selebaran pada 16 Desember 2005 dan 20 Desember 2005 yang isinya menghina pejabat negara yaitu Bupati Nias, dengan tuduhan seolah-olah bupati Nias korupsi. Padahal katanya, atas tuduhan korupsi itu telah dilakukan pemeriksaan oleh Kejaksaan dan sudah dijawab/dijelaskan Bupati Nias secara lengkap dan transparan. Dari hasil pemeriksaan, ternyata dana PSDA dan PPh pasal 21 senilai Rp 2,357 miliar itu telah dialokasikan untuk 15 pekerjaan melalui 34 lembar ceq.

Kemudian tambahnya, untuk penyempurnaan penyidikan kasus itu pihak Kejaksaan sesuai KUHAP telah meminta BPKP Perwakilan Pro­pinsi Sumut melakukan penghitungan, dan ternyata tidak ditemukan kerugiaan keuangan negara sebagaimana dalam surat BPKP tgl 11 Februari 2005.

Oleh karena itu menurut Aldian Pinem, berdasarkan bukti-bukti selebaran yang telah dimuat di sejumlah media massa, pihaknya berkeyakinan ada aktor intelektual di belakang peristiwa tersebut yang sengaja memberikan data tidak benar dengan tujuan membunuh karakter Bupati Nias agar tercemar nama baiknya untuk menjatuhkan kedudukannya sebagai pejabat negara dan juga pribadinya dalam persiapan sebagai calon Bupati Nias periode 2006-2011.

Untuk itu, tim kuasa hukum meminta Poldasu menangkap dan menahan oknum-oknum mahasiswa yang bertanggungjawab dalam pembua­tan selebaran dan aktor intelektual yang sengaja memberikan data tidak benar.(A4/d)
Sumber: HarianSib Online, Rabu, 28 Desember 2005

Dua Presiden : SBY dan Xanana Menangis Haru di Bumi Nias


Gunungsitoli (SIB)

Dua presiden, yaitu Presiden RI Dr H Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Republik Demokrat Timor Leste Xanana Gusmao, menghadiri perayaan Natal Bersama warga Pulau Nias (Kabupaten Nias & Nias Selatan-Nisel) di Gunung Sitoli, Minggu siang (25/12). Kedua Presiden menangis haru bersama sejumlah pejabat dan undangan lainnya ketika menyaksikan adegan fragmen Natal yang menggambarkan tragedi tsunami dan gempa bumi yang dilakonkan ratusan putra-putri Nias di panggung Natal Nias & Nisel di Lapangan Pelita Gunung Sitoli.

Presiden RI Dr Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan ada dua alasan mendorong dirinya untuk datang kembali mengunjungi Pulau Nias menjelang akhir tahun 2005 ini, yaitu untuk melihat secara langsung sampai sejauh mana pelaksanaan dan keberhasilan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi Nias pasca-tsunami dan gempa bumi, dan juga untuk ikut merayakan Natal bersama segenap masyarakat Nias, khususnya dalam rangka “mengenang kembali dan membangun kembali” (remind and rebuild) daerah Nias pasca tsunami 26 Desember 2004 dan gempa bumi 28 Maret 2005 lalu.

“Tahun lalu, saya ikut merayakan natal di Papua, Irian Jaya. Tapi beberapa jam setelah itu saya terbang ke Aceh karena terjadi tsunami (26 Des 2004). Tahun ini, saya bersama rombongan datang lagi ke Nias ini, dan dari lubuk hati yang paling dalam saya katakan, masih ada sisa-sisa kesedihan saya ketika menyaksikan operet Natal yang ditampilkan. Kami begitu terharu, dan kalau dengan ini saya sudah tiga kali datang ke Nias (Gunung Sitoli) ini, maka tahun depan saya akan datang mengunjungi saudara-saudara saya di Teluk Dalam, Nias Selatan,” ungkap Presiden SBY di Gunung Sitoli, Minggu (25/12).

Kepala Negara mengutarakan hal itu ketika menyampaikan pesan-pesan dan sambutan Natal pada perayaan Natal Bersama Warga Nias & Nias Selatan dihadiri 10.000-an warga Nias, meliputi 6.000-an undangan resmi di lapangan Pelita, dan sekira 4.000-an warga yang menyaksikan dari luar arena eks Stadion Pelita yang sengaja dipagari seng. Perayaan Natal Nias & Nisel, sebagaimana dipaparkan Ketua Umum Panitia Natal Bersama Nias & Nisel Agus Herdian Mendrofa yang juga Wakil Bupati Nias, terbilang luar biasa dan sangat bersejarah karena merupakan daerah kabupaten pertama di Indonesia yang dikunjungi atau dihadiri dua kepala Negara sekaligus (Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao) dalam satu perayaan Natal. Selain dua presiden, juga hadir utusan Sekjen PBB, Grace Margarehta.

Hadir pada acara yang juga disebut spektakuler itu antara lain Ibu Negara Ani Yudhoyono, penasehat Presiden RI yang juga perancang dan penanggung jawab Perayaan Natal Bersama Nias Letjen TNI (Purn) TB Silalahi, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri Kesehatan Siti Fadilah, Menteri Agama Maftoeh Basyuni, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Plt Gubsu Drs Rudolf M Pardede bersama istri, Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Lilek AS, Bupati Nias Binahati B Baeha bersama istri Lenny B Baeha, Plt Bupati Nias Selatan Kol (Purn) Drs Eddy Aman Saragih, Calon Wakil Bupati Nisel Daniel Duha SH, Dirjen Bimas Protestan, Dirjen Bimas Katholik, Kapolda Sumut Brigjen Pol H Bambang Hendarso Danuri, Dan Lanal Sibolga Letkol Jaka Santosa, Danrem 023 Kawal Samudera, Kol Eddy Haryanto, GM PLN Kitlur Ir Albert Pangaribuan, Wakil Presiden Konfederasi Buruh Sedunia (World Labour Council-WLC) Dr Muchtar Pakpahan SH MA, Ketua Umum DPP PDS Dr Ruyandi Hutasoit, dll.

Dari kalangan tokoh agama setempat hadir Ephorus BNKP Pdt Dr AR Gea, Ephorus BNKP Indonesia Pdt MA Lase STh, Pdt Wati Hura STh, Pdt Nur Idaman Zebua, Dandim 0121 Nias Letkol Martua Sihotang, dll. Sedangkan dari kalangan wakil rakyat setempat tampak hadir anggota DPRD Nias Damili R Gea SH, Khenokhi Waruwu, Sadarman Zebua SH, Sinema Gulo, Asli Zalukhu, Sofati Waruwu, Sokhizanolo Zai SE dan Sului Zisiwa Wau BA serta Budieli Laia dan Drs Tolanakhou Hia dari DPRD Nisel. Hadir juga tokoh masyarakat Nias Temazaro Harefa, Ama Fince Hulu, Amalili Waruwu, dll. Sehari sebelumnya, sejumlah pejabat daerah hadir seperti Bupati Tapteng Tuani Lumbantobing, Danlanal Sibolga untuk meninjau persiapan akhir menjelang Hari-H perayaan Natal tersebut.

“Saya begitu terharu dengan sajian operet Natal ini, apalagi sub-themanya sangat tepat dan relevan: mengenang kembali dan membangun kembali (remind and rebuild). Dengan sub-thema ini kita harapkan remind and rebuild Nias, remind and rebuild Aceh for remind and rebuild Indonesia to the best future (pembangunan kembali di Nias maupun Aceh akan menjadi pemulihan dan pembangunan lanjut negeri Indonesia untuk masa depan yang lebih-Red). Natal Nias ini juga telah memberikan penegasan kepada saya selaku pemerintah pusat maupun propinsi dan kabupaten untuk membangun kembali Nias ini. Bahkan, Natal Bersama di Nias ini juga telah menunjukkan solidaritas asing kepada Indonesia. Setahu saya, Natal juga merupakan wujud solidaritas Tuhan kepada manusia, sehingga Natal Nias ini juga menjadi refleksi solidaritas dan empati saya sebagai Kepala Negara bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi warga yang terkena bencana seperti di Nias ini,” papar Presiden sembari menyatakan salut kepada ‘Ompung’ TB Silalahi yang merancang sepenuhnya Natal spektakuler tersebut. Sebutan ‘ompung’ oleh Presiden disambut tepuk tagan riuh para undangan.

Presiden juga menambahkan ada empat makna Natal, yaitu: makna yang sarat harapan bagi orang-orang yang menderita atau putus asa, makna jalan terang bagi orang-orang tersesat, makna persatuan bagi orang-orang yang terpecah belah, dan makna pertolongan bagi orang-orang tak berdaya. Thema Natal yang berbunyi: Jangan Takut, Aku Menyertaimu’ sebelumnya dipaparkan Pdt AR Gea yang membawakan narasi Natal.

Beberapa hal menarik terjadi sebelum perayaan Natal secara resmi dimulai. Misalnya cuaca yang sempat ‘mengusik’ dengan gerimis beberapa kali. TB Silalahi kepada SIB menyatakan senang dan bersyukur karena menjelang acara cuaca tampak begitu cerah walaupun beberapa hari sebelumnya hujan hampir setiap hari melanda kota Gunung Sitoli. Di arena panggung, Ketua Umum Panitia Agus Herdian Mendrofa kepada para undangan menyebutkan adanya tawaran dari pawang hujan untuk menangkal hujan pada hari itu.

“Tapi, kita kan orang beriman, tak perlu menggunakan pawang karena ada hamba-hamba Tuhan yang sedang berdoa bahkan sudah berpuasa meminta pertolongan Tuhan agar diberikan cuaca yang baik pada hari acara Natal ini,” ujarnya optimis.

Hal menarik lagi adalah maraknya sebutan ‘Ompung’ kepada TB Silalahi, penasehat Presiden yang juga perancang fragmen Natal, apalagi ketika TB tampil sebagai konduktor ketika ‘uji coba’ para paduan suara lagu Great Haleluya yang dibawakan grup paduan suara ibu-ibu Katolik Nias dan Nias Selatan.

Juga tampilnya grup paduan suara dari SD Muhammadiyah Gunung Sitoli bersama grup-grup paduan suara para pelajar SMP dan SD setempat. Pada pendukung Natal itu antara lain melibatkan empat grup paduan suara dari Nias dengan total 160 orang, 2 grup dari Nias Selatan. (A14/LZ/e/d)

Korban Gempa Di G. Sitoli Keluhkan Persyaratan BRR

Gunung Sitoli, WASPADA Online

Puluhan warga Kota Gunungsitoli yang menjadi korban gempa 28 Maret 2005 berdelegasi ke kantor DPRD Nias Jl Gomo, Selasa (27/12), menyampaikan keluhan soal persyaratan yang diharuskan BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) untuk mendapatkan dana bantuan pembangunan rumah. Delegasi warga diterima Ketua DPRD Nias, M. Ingati Nazara, Amd dan sejumlah anggota DPRD lainnya.

Koordinator delegasi mewaliki warga Kota Gunungsitoli, yang rumahnya hancur akibat gempa, Amran Zebua menjelaskan, beberapa hari sebelumnya, mereka yang telah menjadi korban gempa dan rumahnya hancur total, menerima surat dari (BRR) perwakilan Nias. Disebutkan, korban gempa yang rumahnya hancur, bila ingin mendapat dana bantuan pembangunan rumah terlebih dahulu mengurus izin mendirikan banguan (IMB), serta sertifikat tanah atau rumah harus dilegalisir instansi berwenang.

Persyaratan lain, harus membuat gambar dan rencana anggaran biaya (RAB) rumah yang akan dibangun, serta melunasi retribusi bahan galian golongan C. Juru bicara delegasi itu mengatakan, seperti telah diketahui, para korban gempa yang rumahnya runtuh, hampir seluruh surat-surat penting milik mereka ikut hilang dan terbakar. "Bagaiman kami bisa memenuhi persyaratan yang diharuskan BRR, sedangkan kami saja masih tinggal ditenda atau numpang di rumah kerabat. Jangankan mengurus IMB yang membutuhkan dana jutaan rupiah, untuk makan sehari-hari saja sulit," keluh Amran Zebua mewakili teman-temannya.

Mereka juga menyesalkan pihak BRR yang membebankan kepada mereka untuk membuat rencana gambar dan anggaran biaya membangun rumah. "Hal itu tidak masuk akal. Katanya BRR sedang menyelesaikan rencana tata ruang Kota Gunungsitoli, sekarang malah masyarakat yang membuat rencana masing-masing," tandas Amran Zebua.

Selain permasalahan dana bantuan rumah, warga juga mempertanyakan bantuan jatah hidup (Jadup) yang pernah dijanjikan Wakil Presiden, HM Jusuf Kalla saat berkunjung ke Nias pasca gempa. Saat itu dikatakan akan segera dicairkan melalui Dinas Sosial Sumut sebesar Rp 3.000 perjiwa. Tapi sampai saat ini belum pernah mereka terima.

Mereka juga meminta melalui DPRD Nias agar memperjuangkan pemutihan utang kredit para korban gempa di beberapa Bank di Nias, karena mereka sendiri sekarang merasa tidak mampu melunasinya. Ketua DPRD Nias, M Ingati Nazara Amd mengatakan, semua keluhan dan aspirasi masyarakat korban gempa akan segera ditindaklanjuti dengan mengundang pihak eksekutif dan BRR perwakilan Nias, yang direncanakan 6 Januari mendatang.

Mengenai kredit para korban gempa di beberapa bank di Nias, Ingati Nazara mengakui pihaknya telah menerima surat dari masyarakat, termasuk surat dari Elsaka yang isinya meminta perbankan memutihkan kredit korban gempa. "Untuk itu DPRD Nias telah menyurati bank-bank yang ada di Nias, juga di tingkat provinsi dan pusat, namun jawaban yang diterima DPRD Nias, akan dibahas dengan petinggi di pusat seperti Menteri Keuangan dan Bank Indonesia termasuk perbankan lainnya.

Beberapa anggota DPRD Nias mengatakan, keluhan warga ini merupakan salah satu bukti BRR dan Pemkab Nias tidak berkoordinasi, sehingga yang menanggung akibatanya adalah masyarakat korban gempa. Dikatakan, sebelumnya pada setiap pertemuan, BRR mengatakan lambannya pemulihan melalui rehabilitasi dan rekonstruksi Nias karena rencana tata ruang Kota Gunungsitoli belum selesai. "Nah sekarang malah BRR membebankan warga untuk membuat gambar bangunan rumah sendiri, yang artinya wajah Kota Gunungsitoli ke depan tidak seperti yang digembar-gemborkan menjadi Nias Baru."

Mereka juga menilai, BRR tidak sepenuh hati membangun Nias menjadi Nias Baru, tetapi hanya untuk menghabiskan anggaran. Seperti pencairan dana bantuan pembangunan rumah korban gempa yang mencapai puluhan miliar dengan berbagai alasan, BRR tidak membayarkannya secara tunai, tetapi bertahap.

Namun Humas BRR Nias, Migo yang dihubungi terpisah mengatakan, kebijakan bukan dari BRR, namun sudah tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda). Bahkan, kata dia, BRR mengajukan kepada Pemkab Nias, Perda tetap diberlakukan tapi tanpa kutipan biaya. "Kalau perlu Pemkab dan DPRD membahas masalah ini, intinya Perda dibebankan kepada Pemkab." (cbj)

Sumber: Waspada Online, Rabu, 28 Desember 2005

Senin, 26 Desember 2005

Perlu Rp 10 Triliun untuk Rekonstruksi Nias


Medan (TEMPO Interaktif)
Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Nias, William Sahbandar menyatakan dibutuhkan dana sebesar Rp 10 Triliun selama 4 sampai 5 tahun untuk membangun kembali Nias pasca tsunami. "Itu target yang hendak dicapai BRR Nias berdasarkan mandat,"ujarnya saat berada di Aceh mengikuti acara peringatan 1 tahun tsunami, Senin (26/12).

Menurut William, waktu 4- 5 tahun yang ditargetkan BRR Nias, itu hanya digunakan untuk meletakkan dasar rekontruksi secara benar. Sementara rehabilitasi masyarakat Nias akan terus berlangsung setelah 4 sampai 5 tahun ke depan.

Untuk pembangunan rumah, BRR Nias menargetkan pembangunan rumah sebanyak 13 ribu hingga pertengahan tahun 2007 dari 120 ribu yang ditargetkan BRR untuk pembangunan rumah di Nias dan Aceh.

Dari 13 ribu rumah yang hendak dibangun, BRR menargetkan 1.000 rumah telah dibangun hingga April 2006 dan meningkat menjadi 8 ribu rumah dalam bulan Desember 2006.
Untuk mencapai target-target BRR di Nias, perlu dilakukan upaya yang harus didukung pemerintah. Diantaranya perbaikan jalur logistik di Nias, seperti pelabuhan, jalan, dan jembatan. Kemudian Manajemen Proyek, diantaranya dengan penerapan efisiensi pelaksanaan proyek dan penuh rasa tanggung jawab. "Kalau bisa para pelaku dekat dengan lokasi,"kata William.

Hambali Batubara

Sumber: Tempointeraktif online, Senin, 26 Desember 2005

Jadikan Nias Lebih Baik

Gunungsitoli (Kompas)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Nias, dan Pemerintah Kabupaten Nias Selatan berupaya keras untuk membangun Kepulauan Nias pascagempa. Demikian pula pemerintah pusat.
Saya memberikan penugasan kepada saya sebagai pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten, apa yang dapat dilakukan ke depan untuk membangun Nias meraih keadaan lebih baik. Dalam perayaan Natal ini, saya mengajak seluruh umat Kristiani di seluruh Tanah Air berpartisipasi sekuat tenaga mewujudkan cita-cita pembangunan Indonesia, yaitu kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kata Presiden di depan sekitar 10.000 penduduk Kepulauan Nias dalam perayaan Natal Nasional di Lapangan Pelita, Gunungsitoli, Minggu (25/12).
Presiden mengajak seluruh rakyat Indonesia saling mengulurkan tangan, bahu-membahu, dalam pembangunan. Hal itu dilakukan, kata Presiden, sambil menyiapkan generasi muda lebih baik untuk masa depan Indonesia.
Ia menyatakan, hanya dengan bersatu Indonesia bisa melakukan yang lebih baik untuk perubahan masa mendatang, yakni perubahan untuk membawa bangsa ini sejajar dengan negara lain.
Presiden mengungkapkan, kunjungan kerjanya ke Nias bertujuan melihat kemajuan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Nias. Namun, Presiden tidak menjelaskan lebih lanjut tentang hasil peninjauannya itu.
Setelah menyampaikan pesan Natal, Presiden dan rombongan langsung meninggalkan Lapangan Pelita menuju Lapangan Terbang Binaka, Nias. Selanjutnya, mereka terbang dengan menggunakan pesawat kepresidenan Dash 7 ke Medan.
Menurut keterangan Manajer Ekonomi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nanggroe Aceh Darussalam-Nias Perwakilan Nias Yunus Situmorang, dari 1.100 rumah yang direncanakan dibangun tahun 2005 di Gunungsitoli, yang selesai baru 95 unit. Sisa rumah tersebut akan dikerjakan tahun 2006 bersama target 8.000 rumah di Kepulauan Nias.
Menurut Yunus, proses pembangunan Gunungsitoli sebagai kota terbesar di Kepulauan Nias terus dipercepat. Pulihnya ibu kota Kabupaten Nias tersebut diharapkan memacu pertumbuhan perekonomian di sekitarnya pascagempa.
Kami terus membangun pusat perekonomian di Gunungsitoli dengan intensif. Kami yakin, percepatan pembangunan di Gunungsitoli mampu menggerakkan roda perekonomian di Kepulauan Nias ini, kata Yunus Situmorang, Sabtu malam.
Rumah warga

Saat ini BRR sedang membangun 322 rumah warga Kelurahan Pasar Gunungsitoli yang rusak parah akibat gempa. Survei lokasi, pengukuran, dan pematokan batas antar-rumah penduduk sudah selesai dilaksanakan. Pada tahap pertama BRR akan membangun 200 rumah. Pembangunannya dijadwalkan selesai Maret 2006.
Setelah tahap pertama selesai, pembangunan 122 rumah sisanya akan segera dilaksanakan. Dengan pembangunan rumah, yang sekaligus akan menjadi tempat usaha, tersebut diharapkan perekonomian masyarakat kembali pulih.
Kendalanya, masyarakat belum mengurus surat izin mendirikan bangunan (IMB). Padahal, persyaratan itu mutlak karena merupakan bagian dari penyadaran masyarakat atas kewajiban mereka.
Masyarakat harus tetap mengurus IMB karena itu syarat mendirikan bangunan. Kalau biaya, sepertinya tidak terlalu berat karena kami sudah berhasil memperjuangkan agar bahan galian C dan material bangunan untuk masyarakat dibebaskan dari retribusi, kata Yunus.
Hasil pemantauan Kompas, masih banyak reruntuhan rumah toko warga di kawasan pasar yang belum dibersihkan. Sebagian warga masih tinggal di tenda di depan rumah mereka.
Ketika dikonfirmasi, Bupati Nias Binahati B Baeha mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nias sudah memberikan potongan harga bagi masyarakat yang mengurus IMB. Saat ini masyarakat hanya dibebankan 35 persen dari biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk mengurus IMB.
Pemkab Nias sudah mengalokasikan Rp 1,3 miliar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Nias 2005 untuk pembelian lahan. Lahan tersebut akan dibagikan kepada korban gempa yang tidak memiliki tanah untuk pembangunan rumah.
Kami berusaha memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin membangun kembali rumahnya yang hancur akibat gempa. Pemkab akan menyediakan sistem pelayanan satu atap untuk mempercepat warga yang mengurus IMB, kata Binahati.
Kekurangan pekerja

Yunus mengatakan, BRR menargetkan pembangunan sedikitnya 8.000 rumah di Kepulauan Nias pada tahun 2006. Namun, target itu dikhawatirkan sulit terpenuhi karena minimnya jumlah tenaga kerja di Nias.
Tenaga kerja yang ada di Nias tidak mencukupi untuk proyek pembangunan di sini. Kami membutuhkan banyak tenaga kerja agar proyek ini dapat selesai tepat waktu, kata Yunus Situmorang. (HAM)
Sumber: KOmpas Online, Senin, 26 Desember 2005

Minggu, 25 Desember 2005

Xanana Hadiri Natal Bersama Presiden Yudhoyono di Nias


http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=85462

NIAS--MIOL: Presiden Republik Demokratik Timor Leste Xanana Gusmao diundang pemerintah Indonesia untuk bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri acara perayaan Natal dengan penduduk di Kepulauan Nias, Minggu Siang.

Menurut Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng di Nias, Minggu, Presiden Xanana berangkat bersama Yudhoyono dari Jakarta untuk menghadiri acara ini.

Di pesawat udara, Presiden Xanana duduk di urutan bangku terdepan di samping kanan Presiden Yudhoyono dan sebelah kanannya adalah Menteri Agama Maftuh Basyuni.

Presiden Yudhoyono beserta rombongan mendarat di pulau Nias, Minggu siang sekitar pukul 11.35 WIB dan disambut oleh Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Muthia Hatta, serta muspida Nias.
Kehadiran Presiden termasuk Ibu Negara Ani Yudhoyono, dan sejumlah anggota Kabinet Indonesia Bersatu menghadiri acara Natal bersama dengan ribuan penganut Kristiani Nias di Lapangan Pelita, Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, yang di atasnya berdiri tenda besar dan podium.
Kunjungan Kepala Negara ke ibukota kabupaten Nias ini adalah yang ketiga kalinya dalam tahun 2005.(Ant/OL-03)


Sumber: MediaIndonesia Online, Minggu, 25 Desember 2005

Presiden Yudhoyono dan Xanana Disuguhi Aksi Hombo Batu Nias

NIAS (MIOL)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Presiden Republik Demokratik Timor Leste, Xanana Gusmao, Minggu, sangat menikmati suguhan pertunjukan oleh putra-putri Nias.
Acara perayaan Natal di Nias yang diperagakan di hadapan dua presiden tersebut termasuk lalu-lagu kerohanian, lagu daerah, operet Natal hingga aksi hombo batu (lompat batu).
Presiden Yudhoyono dan Presiden Xanana yang mengenakan batik itu tampak bertepuk tangan ketika tiga orang pelompat batu yang mengenakan pakaian adat Nias mengerahkan tenaganya dan berhasil melompati batu setinggi dua meter.
Suguhan tarian adat maupun lagu-lagu rohani tersebut menjadi bagian dalam acara penyambutan kedatangan Presiden beserta rombongannya untuk menghadiri acara perayaan Natal di Lapangan Pelita, Gunung Sitoli, Nias, Sumatera Utara, Minggu petang.
Sedangkan Pastur Michael To dalam doa safaatnya antara lain melanjutkan doa keselamatan bagi Presiden dan seluruh bangsa Indonesia di tengah berbagai kesulitan yang dihadapi bangsa ini.
Sementara itu, beberapa lagu yang dinyanyikan oleh paduan suara yang dibawakan oleh putra-putri Nias mencakup lagu rohani, lagu dari pulau dan benua, Haleluyah, lagu Sungguh Mulia dan Selamat Hari Natal, Putri Sion, serta Kesukaan Yang Ceria.
(Ant/OL-03)

Sumber: Media Indonesia Online, Minggu, 25 Desember 2005

Jumat, 23 Desember 2005

Natal: Dari Surga Untuk Dunia (untuk saudaraku di Yahukimo, Aceh & Nias)

Oleh: Etis Nehe

”Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yes. 40:10).

Natal Kini : Sebuah Ironi

Catatan: Ketika memulai perenungan ini, beberapa judul yang terlintas dibenak saya yang akan saya dijadikan sebagai judul dari tulisan ini adalah “Dari Betlehem Hingga Yahukimo”, “Natal di Yahukimo.”
Entahkah masih banyak orang yang memahami arti dan dinamika Natal dalam arti yang sesungguhnya sesuai dengan realitas orisinil peristiwa agung tersebut. Agak susah untuk menemui hal itu kini, di era modern ini. Terjadi distorsi dan redefenisi dengan pemaksaan makna baru yang pada akhirnya merelatifkan nilai-nilai agung dan luhur Natal itu bagi manusia dan kemanusiaan.
Coba saja kita merenung sejenak. Apa yang terlintas seketika di pikiran kita ketika ingat atau menjelang Natal. Natal berarti ingat keluarga di kampung, kirim kartu natal, pesta, baju baru, miniatur pohon cemara, salju-saljuan, boneka sinterklas.
Natal telah menjadi ajang perilaku eksebisionisme yang kebablasan, yang mewujud dalam hingar bingar, keglamoran dan penampilan mentereng. Mungkin suatu kali nanti tidak ada lagi yang tahu arti Natal yang sebenar-benarnya. Natal kini tidak lebih dari sekedar pangsa pasar periodik.
Bukanlah suatu kesalahan jika hal-hal itu (dalam batas tertentu) disandingkan dengan perayaan Natal itu sendiri. Tetapi, Natal bukanlah - dan tidak pernah sama dengan - sebuah upacara atau perayaan seperti yang sering kita saksikan saat ini.


Sari Natal

Natal adalah keterkaitan antara kekekalan dengan kesementaraan, antara keabadian dengan kefanaan; pertemuan antara ketakterbatasan Allah dengan keterbatasan yang manusia; persentuhan unik nan agung antara keputusasaan manusia dalam penderitaannya dalam dosa dengan belas kasih tak terhingga dari Allah yang membebaskan dan melegakan jiwa.
Natal bermula dari Allah. Natal adalah Allah melihat dan ‘menangani’ manusia dengan mendatanginya secara langsung. Sama seperti ketika Allah pertama sekali menangani manusia dengan menciptakannya secara langsung, dengan ‘tangan-Nya’ sendiri. Tapi kali ini, Dia datang dengan cara yang lebih unik, menolong manusia dengan menjadi sama seperti manusia. Itulah inkarnasi. Itulah Natal.
Karena itu, Natal selalu berarti melihat [kembali] kepada apa yang telah Allah perbuat bagi manusia. Itulah yang mendasari semua hal di dalam melihat dan memperlakukan diri sendiri dan orang lain. Hal itu berbeda dengan apa yang ditawarkan oleh humanisme modern yang melihat segala sesuatu dari perpektif manusia dan bukan pada bagaimana Allah melihat dan menghargai manusia. Setiap aktivitas sosial kemanusiaan hanya akan menemukan artinya yang hakiki dalam pengenalan akan Allah.
Natal adalah Allah dari surga untuk manusia. Natal adalah Allah bersama manusia. Natal mencakup upaya pemulihan manusia dan kemanusiaan, termasuk bumi dimana dia berpijak. Natal adalah kebersamaan dengan Allah dalam kebersamaan dengan sesama manusia. Natal bukanlah semata keprihatinan basa-basi melainkan sebuah keterlibatan dalam pemeliharan, kepedulian dan pemberian kemungkinan kehidupan dan lingkungan kehidupan yang lebih baik.
Natal bukanlah sebuah basa-basi protokoler yang disertai dengan upaya-upaya rasionalisasi atas kondisi yang ada, seperti akhir-akhir ini kita saksikan dalam masalah Aceh, Nias, Yahukimo, dan masih banyak lagi. Natal ditandai dengan kehadiran, keterlibatan dan pengaharapan yang baru.
Bukanlah suatu kebetulan jikalau Perayaan Natal kali ini mengusung tema yang sama dengan
Perayaan Natal pada tahun 1998, ketika Indonesia berada dalam masa-masa kritis. “Jangan Takut Sebab Aku Menyertai Engkau…” yang dicuplik dari sebuah ayat dalam Kitab Nabi Yesaya 41:10a yang ditulis ratusan tahun sebelum Yesus Kristus lahir. Pada mulanya tema itu berbicara mengenai pembebasan oleh Tuhan dari kesesakan hidup umat Allah. Sebuah janji mesianik. Tema itu berisi jaminan (assurance) perlindungan (protection), keselamatan (salvation), pemeliharaan (preservation) dan pengasuhan (caring).
Mungkin dari segi substansi masalah ada perbedaan dengan kematian luar biasa di Aceh dan Nias akibat gempa dan tsunami, kekerasan di Poso yang tidak kunjung selesai, kelaparan di Yahuimo-Papua dan berbagai kesulitan hidup yang mendera rakyat saat ini. Tetapi satu hal yang sama yang mempertautkan seluruh peristiwa pilu yang menyesakkan tersebut adalah pengharapan yang tak lekang dari Sang Pencipta yang datang melawat dan mewujud sama dengan manusia. Dia datang dalam peristiwa Natal. Dia disebut sebagai Imanuel yang artinya “Allah beserta kita.” Dia juga yang menyatakan janji agung, “Aku menyertai engkau sampai kepada akhir zaman” ketika Dia kembali ke Sorga. Dia adalah Sang Bayi Natal, Yesus Kristus, Sang Juruselamat.
Pesan universal dari Natal adalah Allah datang dan bersama-sama dengan manusia. Tetapi bagaimana Allah bisa datang lagi saat ini secara fisik seperti pada peristiwa Natal dulu? Dia telah memerintahkan pengikutnya untuk membawa the great commandments yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia. Dan dengan itu manusia mendengar dan menemukan kabar baik terbesar yaitu bahwa ada pengharapan bagi manusia melalui Bayi Natal (the great commissions). Melekat dengan perintah tersebut adalah pesan untuk memulihkan kehidupan dan mengupayakan hidup yang lebih baik melalui sikap hidup yang benar dan bertanggungjawab (the great works/responsibilities).

Natal : Pengharapam Imanuel
Ironi Natal adalah ketika pada saat perayaan Natal justru nilai-nilai hakiki Natal terlupakan. Hal itu berbanding sejajar dengan fenomena religiositas yang serba wah namun pada saat yang sama menjadi raja tega atas penderitaan manusia di sekitarnya.
Dalam sebuah wawancara penulis dengan Yonky Karman. Ph. D,[1] mengenai relevansi dan makna tema natal tersebut dalam konteks Indonesia mengatakan bahwa kondisi Indonesia yang telah menjadi sasaran teror selama 5 tahun terakhir, dan tahun ini ditandai dengan penjagaan yang ketat disetiap gereja bukanlah sebagai tanda keadaan nyaman atau perlakuan istimewa tetapi petunjuk adanya masalah besar. Sekaligus mengindikasikan kondisi memprihatinkan bangsa ini dalam kehidupan beragama. Dalam kondisi seperti itu, diharapkan orang-orang Kristen lebih memahami atau merenungkan kembali arti Imanuel. Dan semoga tahun depan ada iman yang lebih besar sehingga tidak perlu ada pengamanan seperti sekarang ini.
Di tengah optimisme yang berlebihan dari elit politik negeri ini akan kondisi Indonesia yang lebih baik, di hadapan kita, tahun depan akan dihadang oleh gelombang PHK yang luar biasa. Sebagai efek domino dari PHK tersebut adalah meningkatnya jumlah pengangguran yang akan diikuti oleh peningkatan kejahatan. Tidak terkecuali, orang Kristen akan mengalaminya juga. Karena itu orang Kristen diajak untuk menatap bahwa ada harapan untuk masa depan sehingga tidak tenggelam dalam keadaan yang menyulitkan itu. Ada pengharapan karena Dia ada.

Sosialitas Natal

Dalam semangat natal, ada tanggungjawab yang besar, yaitu keterlibatan dalam hidup ini secara penuh dan benar. Orang-orang Kristen atau gereja dituntut untuk tidak berputar-putar pada keber-agama-an yang ritualistik dan penekanan pada kesalehan pribadi yang vertikal. Kondisi ril menuntut sebuah upaya mentransfer kesalehan individual tersebut menjadi kesalehan sosial. Kerajaaan Allah sudah tidak dapat lagi dilihat secara sempit sebagai aktivitas dalam ruang dan pelayanan ritual gereja tetapi juga mencakup seluruh dunia ini. Dunia harus dilihat sebagai Kerajaan Allah dimana kita telah ditempatkan menjadi rekan kerja Allah. Bila tidak demikian maka dunia ini akan direbut Setan.
Natal adalah sebuah panggilan solidaritas. Yesus lahir dalam kesederhanaan. Kesederhanaan itu adalah tanda kepekaan-Nya akan penderitaan manusia yang kepadanya Dia menyamakan diri. Tetapi kini ada sebuah gejala yang berbahaya. Yonky Karman, Ph, D mengatakan bahwa ada kecenderungan dimana gereja-gereja akan bersatu dan menunjukkan solidaritasnya hanya pada “kejadian luar biasa” seperti ketika tsunami dan gempa di Nias dan Aceh. Bahkan sampai membatalkan Natal Nasional dan mengirimkan dana Natal itu ke sana. Tetapi bila tidak seperti itu, biasanya solidaritas itu hampir tidak kelihatan. Pertanyaannya adalah mengapa sekarang Yahukimo tidak membangkitkan solidaritas gereja dengan cara yang sama? Jangan-jangan kepekaan kita sudah berkurang dan harus selalu diperhadapkan dengan sesuatu yang besar yang menyentak.
Di tengah gegap gempita dan riuh rendah perayaan Natal, terutama di perkotaan oleh orang-orang Kristen, di sana: di Nias, di Aceh, di Yahukimo saudara-saudara kita meregang nyawa karena kesulitan mendapat makanan, bahkan mereka yang di pengungsian sekalipun. Entah apa yang ada dipikiran mereka ketika ingat bahwa bulan ini adalah bulan Desember, bulan Natal. Atau bahkan mungkin mereka tidak ingat lagi kalau ini bulan Desember seperti biasanya.
Tulisan dari John R. W. Stott dalam bukunya Isu-Isu Global dibawah ini mungkin bisa mewakili apa yang akan mereka katakan kepada kita yang sedang merayakan Natal saat ini ditengah segala kecukupan kita.
Saya kelaparan, dan anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya. Saya terpenjara, dan anda menyelinap ke kapel anda untuk berdoa bagi kebebasan saya.
Saya telanjang, dan anda mempertanyakan dalam hati kelayakan penampilan saya.
Saya sakit, dan anda berlutut dan menaikkan syukur kepada Allah atas kesehatan anda.
Saya tak mempunyai tempat berteduh, dan anda berkhotbah kepada saya tentang kasih Allah sebagai tempat berteduh spiritual.
Saya kesepian, dan anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa bagi saya.
Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah.
Tapi saya tetap amat lapar– dan kesepian – dan kedinginan.[2]
Natal adalah dari surga untuk dunia. Natal adalah kembali kepada Allah melalui Yesus Kristus, Bayi Natal. Dan dari sana kehidupan dan kemanusiaan itu dirajut kembali menjadi lebih baik dan bermartabat. Maafkan aku saudaraku di Nias, di Aceh dan di Yahukimo karena tidak bisa berbuat sesuatu untukmu saat ini, kecuali perenungan ini, yang tidak akan membuatmu merasa kenyang. Selamat H...... [aku tidak berani mengatakannya, takut bila hal itu menyakitimu].
----------------
[1] Yonky Karman, Ph. D adalah seorang Rohaniwan, Dosen Seminary (STT), dan penulis di koran Kompas tentang masalah-masalah sosial.
[2] John R. W. Stott, Isu-Isu Global, (Jakarta: YKBK/OMF, 1984), hal. 11

DPRDSU Desak Kajatisu Keluarkan SP3 Kasus Tuduhan Korupsi Bupati Nias


Medan (SIB)

Anggota Komisi A DPRD Sumut H Abdul Hakim Siagian SH mendesak Kajatisu H Hartoyo, SH segera mengeluarkan SP3 (Surat Penghentian Penyidikan Perkara) kasus tuduhan korupsi dana PSDA (Provinsi Sumber Daya Alam) sebesar Rp2,3 miliar terhadap Bupati Nias Binahati B Baeha, SH, demi kepastian dan penegakan hukum, sebab dengan terus ‘digantungnya’ kasus tersebut membuat Bupati dan keluarganya menjadi tersiksa dan teraniaya oleh publik.

“BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) telah melakukan audit total terhadap penggunaan PSDA di sektor kehutanan itu, tapi tidak ada ditemukan bukti-bukti penyelewengan maupun maupun kerugian negara. Tapi mengapa Kajatisu terus ‘menahan-nahan’ maupun menggantung-gantung status hukum terhadap Bupati Nias. Segeralah keluarkan SP3-nya” kata Abdul Hakim Siagian kepada wartawan, Kamis (22/12) di DPRD Sumut.

Dikatakan Hakim Siagian, Kajatisu dalam melihat kasus ini harus objektif, apalagi auditor BPK menyatakan penggunaan dana PSDA yang bersumber dari APBD Nias ini telah sesuai dengan peruntukannya dan telah dipertanggungjawabkan dalam paripurna DPRD Nias melalui LPj Bupati, sehingga jelas tidak ada unsur korupsi seperti yang dituduhkan lawan-lawan politik Bupati.

Lagi pula, kata Hakim Siagian, Kajatisu telah memeriksa Bupati Nias berulangkali dengan mengajukan 88 bentuk pertanyaan yang keseluruhannya telah dijawab dan dijelaskan, bahwa dana PSDA Rp2,3 miliar lebih itu telah dipergunakan sesuai dengan peruntukannya, tapi mengapa kasusnya terus ‘digantung-gantung’ alias tidak ada kepastian hukum terhadap statusnya.

“Kita harapkan Kajatisu segera mengeluarkan SP3 terhadap kasus yang menimpa Bupati Nias tersebut, sebab dengan tidak adanya kepastian hukum, membuat Binahati bersama keluarganya menjadi teraniaya dan telah dihukum publik, padahal negara kita menganut sistem perundang-undangan azas praduga tak bersalah,” tegasnya sembari menambahkan, jika nanti ditemukan adanya bukti-bukti baru, silahkan aparat Kejaksaan melakukan penyelidikan ulang.

Diakui Hakim lambannya Jaksa mengeluarkan SP3 terhadap kasus yang menimpa Bupati Nias tidak terlepas dari kelemahan undang-undang, karena tidak membuat standard yang jelas batas waktu pengeluarannya, sehingga terjadi ajang permainan oknum-oknum aparat penegak hukum yang dampaknya jelas merusak citra lembaga peradilan.

“Saya menduga, ditahan-tahannya kasus yang pernah mencuat ke permukaan pada November 2004 itu, tidak terlepas dari adanya unsur politis dari lawan-lawan politik Binahati menjelang pencalonan menjadi balon Bupati Nias, untuk membunuh karakter serta mencoreng nama baik Bupati di mata masyarakat,” kata pengacara senior itu.

Seperti diberitakan SIB, Kamis (22/12), Bupati Nias Binahati B Baeha, SH meminta perlindungan hukum kepada Presiden yang tembusannya disampaikan kepada Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua MA, Jaksa Agung, Ketua KPK, Mendagri dan sejumlah instansi di Sumut, sehubungan dengan munculnya aksi-aksi unjuk rasa dari lawan-lawan politiknya, terkait pencalonannya jadi calon Bupati Nias. (A13/g)
Sumber: Hariansib Online, Jum'at, 23 Desember 2005

DPR akan Bagi 30.000 Paket Natal Nias, Proyek "RSU" Baru Terancam Batal


Gunungsitoli (SIB)

Presiden RI Dr H Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan akan membagikan bingkisan paket natal dan tahun baru kepada 30.000 warga pengungsi korban bencana alam gempa bumi di Nias, pada Perayaan Natal Bersama Masyarakat Nias pada Minggu 25 Desember pekan ini, sementara proyek pembangunan rumah sakit umum (RSU) baru yang semula telah dipersiapkan, tampaknya akan batal diresmikan Presiden pada hari tersebut.

Utusan khusus Presiden RI Mayjen TNI (Purn) TB Silalahi menyatakan seluruh bingkisan Natal dan Tahun Baru itu sudah ada di Nias dan langsung dibagikan kepada masyarakat melalui gereja-gereja setempat yang dikordinir oleh pihak pemerintah kabupaten (Pemkab Nias). Sehingga, pada perayaan Natal Bersama pada Minggu 25 Desember nanti, penyerahan bingkisan oleh Presiden RI hanya berupa simbolis kepada masyarakat Nias.

“Perayaan Natal Bersama Masyarakat Nias yang dihadiri langsung oleh Presiden RI tahun ini merupakan momentum penting dalam masa pemulihan dan pembangunan kembali (rebuilt) Nias setelah dilanda bencana persis setahun lalu. Kedatangan presiden yang ketiga kalinya ke Nias, menunjukkan betapa peduli dan besarnya kasih pemimpin (Presiden ) kepada masyarakat atau daerah Nias,” ungkap TB Silalahi di Gunung Sitoli, Kamis (22/12).

Dia mengutarakan hal itu pada rapat kordinasi terpadu ditenda raksasa kompleks Lapangan Pelita kota Gunungsitoli. Hadir antara lain Staf Khusus Presiden RI Kombes Pol Raja Poltak Simamora, Bupati Nias Binahati B Baeha, Wakil Bupati Nias Agus Herdian Mendrofa yang juga Ketua Panitia Natal Bersama Masyarakat Nias 2005, Kepala Dinas Jalan & Jembatan Propinsi Sumut Ir Roslila Sitompul, Pendeta B Laia dari BNKP Teluk Dalam Nias Selatan, Kepala Badan Rekonstruksi & Rehabilitasi (BRR) Nias William Sabandar, Danrem 023 Kawal Samudera Eddy Haryanto, Dandim 0213 Nias Letkol Martua Sihotang, Wakapolres Nias Kombes Pol Mursid Saleh, Kabag Umum Pemkab Nias Baziduhu Ziliwu, serta sejumlah kepada dinas dan aparat terkait plus para pasukan pengaman presiden (Paspamres).

Rapat yang semula akan digelar di aula Pendopo Pemkab Nias itu, tampak menarik perhatian para peserta rapat, terutama karena sorotan para pejabat dari Jakarta terhadap kinerja BRR Nias. Soalnya, kondisi pemukiman sementara berupa rumah-rumah petak (knock down) bagi 200-an KK warga pengungsi khususnya yang terletak di lima titik lokasi utama, hingga tiga hari menjelang kedatangan Presiden (H-3) ternyata belum rampung. Pihak BRR dikecam keras pada rapat itu, baik karena kondisi penanganan infrastruktur yang belum tuntas, pembangunan perumahan sementara yang lamban, juga karena kordinasi yang tak optimal. ”Bahkan, rencana peresmian RSU Gunung Sitoli tak bisa diagendakan. Sangatlah riskan bagi Presiden untuk meresmikan proyek atau objek kalau masih dalam bentuk masterplan (maket) saja. Bagaimana kalau nanti RSU baru itu tak jadi dibangun, apalagi biayanya belum terkumpul semua,” ujar pejabat utusan presiden yang juga mendampingi TB Silalahi.

Menanggapi hal ini, Kepala BRR Perwakilan Nias William Sabandar dengan nada seperti tak bersalah menyatakan pihaknya mengalami sangat banyak kendala di lapangan dalam mensosialisasikan proyek-proyek BRR untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana selama hampir setahun ini. Padahal Kepala Bagian Humas Pemkab Nias S Yan Zebua, kepada SIB di kantornya, semula diagendakan Presiden akan meresmikan pemukiman sementara untuk 200-an warga pengungsi daerah ini. Lalu, soal rencana pembangunan gedung RSU baru, William menyebutkan dana yang dibutuhkan mencapai Rp 43 miliar, namun yang terkumpul masih Rp 30 miliar dari pihak donatur Mercy Malaysia. Sedangkan kendala dalam pembangunan pemukiman sementara adalah material yang tak serentak sampainya ke Nias dari negara asal donatur.

“Masalah sebenarnya pada pemukiman sementara adalah, bahan kayu untuk pelengkap kerangka rumah-rumah petak itu belum tiba dari Australia, padahal kerangkanya sudah dipasang. Jadi, pihak Australia pesan kepada kami agar mencari kayu dari lokasi terdekat. Kami pesan ke Sibolga. Nah, barang (kayu-kayu) itu sudah dapat di Sibolga, tapi nyatanya tak ada kapal yang bisa mengangkutnya ke Gunungsitoli, termasuk kapal feri,” ujar rekan kerja William Sabandar sembari mengatakan soal kritik dan kecaman terhadap suatu kinerja, merupakan hal biasa.

NAtal Spektakuler

Perayaan Natal Bersama Masyarakat Nias 2005 di Gunungsitoli akan berlangsung dengan gaya spektakuler, baik dari aspek properti (perlengkapan dan peralatan), materi (bentuk acara dan para pelakon), dan juga dari aspek seremoni (peserta dan undangan).

Sebagaimana disaksikan SIB di areal lapangan Pelita, tenda raksasa seluas lapangan bola dengan ketinggian atap tenda bagian tengah (panggung) yang mencapai 10-12 meter tampak terpasang kokoh dengan kerangka tiang-tiang besi. Panggung besar dengan dekorasi berlatar belakang ‘alam bersih atau cuaca bagus berlintas pelangi’ plus foto-foto poster kenangan bencana alam gempa bumi yang dikunjungi Presiden RI bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono 31 Maret lalu, tampak berdiri megah bagaikan panggung konser musik kelas dunia.

“Perangkat sound system-nya saja ukuran 50.000 Watt, kalau hujan deraspun takkan tergganggu suaranya. Saya yakin acara Natal ini akan membangkitkan semangat dan harapan anak-anak atau warga Nias setelah dilanda bencana. Kita akan lakukan yang terbaik sebagaimana perhatian dan kepedulian Presiden SBY. Hebat Nias ini, sudah tiga kali Presiden datang ke sini. Ke kampung saya saja baru dua kali,” papar TB Silalahi sembari mengacungkan jempolnya ke arah para prajurit TNI dari kesatuan Yonif 125 Simbisa dan TNI setempat atas kinerjanya yang membangun tenda raksasa itu dengan gerak cepat dan tepat waktu.

Kepada SIB sesuai rapat kordinasi, utusan khusus Presiden RI Mayjen TNI (Purn) TB Sialahi selaku penanggung jawab perayaan Natal Bersama Masyarakat Nias 2005 menyebutkan pihaknya telah menyiapkan 5.000 undangan Natal yang hanya bisa digunakan secara perorangan (satu undangan untuk satu orang). Dia juga menyebutkan sejumlah menteri juga akan turut dalam rombongan Presiden SBY, baik untuk kunjungan Natal ke Nias, maupun untuk kunjungan peringatan satu tahun bencana tsunami di Aceh keesokan harinya.

Dari copy agenda acara kunjungan Presiden RI ke Nias & NAD bersifat ‘Terbatas’ yang diperoleh SIB Rabu (21/12) kemarin, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono serta Plt Gubsu Drs Rudolf Pardede dan isteri plus rombongan, akan tiba di Bandara Binaka Gunungsitoli Nias pada pukul 11.00 dengan pesawat khusus kepresidenan (Dash 7) dari Pangkalan TNI Apron Kelapa Sawit Polonia Medan. Rombongan Presiden setibanya di Nias akan disambut Bupati Nias Binahati B Baeha, Ketua DPRD Nias dan Muspida Kab. Nias.

Beberapa menteri yang disebut-sebut akan turut serta ke Nias adalah Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Kesehatan Siti Fadillah, dan Ketua Umum BRR Kuntoro Mangkusubroto. Selain sejumlah menteri, bersama rombongan juga disebut turut serta Dr Mochtar Pakpahan SH MA, Wakil Presiden Kofederasi Buruh Sedunia (World Labour Council) yang juga Ketua Umum Partai Buruh di Indonesia. Hal ini dibenarkan Mochtar Pakpahan ketika dikonfirmasi SIB langsung ke pesawat HP-nya maupun melalui Ketua DPC Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD) Kab Nias H Harefa secara terpisah. Ketika ditanyakan dalam kapasitas apa Mochtar ikut, dia hanya menyebutkan untuk ikut bor Natal bersama Presiden di Nias.

“Bukan hanya karena acara Natal yang dihadiri Presiden sehingga nilai Natal itu tampak spektakuler, Nias dengan kondisi pasca bencana yang tengah menjalani rehabilitasi dan rekonstruksi, sangat wajar kalau terus dikunjungi banyak orang dari mana saja. Hanya saja, momen perayaan Natal di daerah Nias yang dihadiri kepala daerah ini akan menjadi momen pemulih bahwa Nias ke depan bukan hanya sebagai pulau wisata, tetapi juga pulau iman,” papar Mochtar Pakpahan kepada SIB melalui HP-nya. (A14/LZ/f)
Sumber: Hariansib Online, Jum'at, 23 Desember 2005

Kamis, 22 Desember 2005

Bupati Nias Binahati B Baeha SH Mengadu dan Mohon Perlindungan Hukum ke Presiden


Medan(SIB)
Bupati Nias Binahati B Baeha SH mengadu dan mohon perlindungan hukum kepada Presiden RI, karena merasa “teraniaya” akibat gerakan yang dilancarkan pihak-pihak tertentu baik lewat aksi unjuk rasa maupun hujatan tertulis, di Jakarta dan di daerah dengan mengisukan dirinya terlibat korupsi, yang bertujuan “membu­nuh” karakter Binahati dalam proses pencalonan kembali bupati Nias periode mendatang.

Permohonan perlindungan hukum tersebut diajukan Binahati melalui kuasa hukumnya HMK Aldian Pinem SH MH dalam surat tanggal 21 Desember 2005 dengan tembusan ke Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua MA, Jaksa Agung,Ketua KPK, Mendagri, Gubsu, Kejatisu, Kejari Gunungsi­toli dan instansi terkait lainnya, sehubungan dengan munculnya aksi aksi unjuk rasa belakangan ini seiring dengan proses penca­lonan Bupati Nias.

“Selain mohon perlindungan hukum, klien saya juga mohon kepada Presiden supaya meninjau kembali surat Presiden tgl 26 Nopember 2004 No R.56/Pres/11/2004 berkaitan dengan ijin pemerik­saan Bupati Nias. Sebab surat Presiden itu telah dijadikan pihak pihak tertentu sebagai pedoman melakukan gerakan “penganiayaan” dengan menuduh Binahai korupsi dalam proyek PSDA senilai Rp 2,3 miliar lebih,” ujar Aldian.
Padahal dana yang bersumber dari APBD/P-APBD TA 2001 itu telah digunakan sesuai peruntukannya dan telah dipertanggungja­wabkan kepada DPRD melalui LPj 2001. Dan atas permintaan Kejak­saan, pihak BPK juga telah menerbitkan surat 11 Februari 2005 yang menerangkan bahwa berdasarkan perhitungan BPK dalam pelaksanaan proyek itu tidak ada kerugian negara”, kata Aldian Pinem kepada wartawan, Rabu(21/12) malam.
Diakui Pinem,atas dasar surat ijin Presiden pihak kejaksaan telah memeriksa kliennya dengan mengajukan sedikitnya 88 bentuk pertanyaan yang semuanya telah dijawab dan dijelaskan Binahati pada setiap pemeriksaan, bahwa dana Rp2,3 miliar lebih untuk PSDA (provisi sumber daya alam) sektor kehutanan tersebut telah digu­nakan sesuai peruntukannya.Namun belakangan seiring dengan penca­lonan kembali Binahati, isu korupsi itu dimunculkan melalui gera­kan pihak pihak tertentu, katanya. (A-4/g)
Sumber: Hariansib Online, 22 Desember 2005

Rabu, 21 Desember 2005

Presiden SBY akan Hadiri Natal di Nias 25 Desember


Medan (SIB)

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) direncanakan akan menghadiri perayaan Natal di Nias, Minggu (25/12) dan akan memberikan bingkisan sekitar 40 ribu paket bagi warga Nias dan Nias Selatan.

Menurut informasi yang diperoleh di Pempropsu, Senin (19/12), Presiden SBY dan rombongan berangkat dari Jakarta tanggal 25 Desember 2005 transit di Medan dan kemudian bertolak ke Nias.

Usai menghadiri Natal dan memberikan bingkisan Natal pada hari yang sama, rombongan kembali ke Medan dan menginap di salah satu di Medan. selanjutnya, Senin pagi (26/12) Presiden SBY dan rombongan bertolak ke NAD untuk melihat realisasi pelaksanaan pembangunan yang dilakukan oleh Badan rehabilitasi dan rekonstruksi (BRR).

Ketika hal ini dikonfirmasi kepada Kabid Humas Pimpinan Setdapropsu Drs Eddy Syofian Purba MAP, membenarkan bahwa Presiden SBY dan rombongan berkunjung ke Nias untuk menghadiri perayaan Natal di daerah tersebut pada, Minggu (25/12) transit di Medan dan pada hari yang sama rombongan kembali ke Medan dan menginap di salah satu hotel di Medan.

Namun Eddy Syofian tidak dapat menjelaskan apa kegiatan Peresiden SBY selama berada di Medan sebelum berangkat, Senin pagi (26/12) ke NAD. “Kita belum dapat informasi tentang kegiatan kepala negara selama berada di Medan,” ujar Eddy Syofian.

Sebelumnya Wagubsu Drs Rudolf M Pardede seusai menerima Dubes AS untuk Indonesia, Senin (19/12) menyampaikan, bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menghadiri Natal bersama warga Nias di Gunung Sitoli, 25 Desember 2005 mendatang. Pada kesempatan itu, Presiden direncanakan memberikan bingkisan Natal kepada warga Nias di Gunung Sitoli berkisar 25 ribu sampai 30 ribu bingkisan Natal. Sedangkan Pemprovsu juga telah mempersiapkan bingkisan Natal sebanyak 15 ribu untuk warga Nias Selatan.

Paket atau bingkisan Natal ini telah dipersiapkan. “Kita sudah persiapkan bingkisan Natal untuk Nias Selatan sebanyak 15 ribu paket, dan telah dikirim ke Nias Selatan”, katanya.

Kehadiran Presiden di Nias juga untuk melihat realisasi pelaksanaan pembangunan yang dilaksanakan BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) dan juga yang dilakukan oleh Pemprovsu dan pemerintah setempat termasuk meninjau pembangunan pemukiman oleh BRR yang sudah selesai, jelasnya. (A12/RT/y)
Sumber: HarianSib Online, Rabu, 21 Desember 2005

Tragedi Papua Bisa Trerjadi di Sumut

Medan (SIB)

Tragedi pangan dan kesehatan yang mengakibatkan meninggalnya 55 orang di Papua, bisa terjadi di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia termasuk di Sumatera Utara, jika pemerintah tidak responsif terhadap kondisi rakyat miskin di daerah-daerah yang tidak terjangkau komunikasi dan transportasi.

Hal itu dikatakan Ketua DPW PDS Sumut DR (HC) Drs Toga Sianturi MA didampingi staf ahli DPRD Sumut Himpun Panggabean kepada pers di kantor DPW PDS Sumut Medan Senin (19/12).

Toga Sianturi yang juga Ketua Fraksi PDS Sumut itu mengungkapkan, di daerah-daerah yang merupakan peta kemiskinan di Sumut seperti Nias dan Nias Selatan yang pelosok-pelosoknya tidak dapat dijangkau sarana komunikasi dan transportasi tragedi kemanusiaan yang sama juga bisa terjadi.

“Jangankan di pelosok-pelosok seperti itu, di Kabupaten Tapanuli Utara pun kondisi yang sama mungkin bisa terjadi, jika pemerintah tidak proaktif melakukan pemetaan dan penelitian terhadap daerah-daerah miskin. Saya bersama pengamat sosial Himpun Panggabean pernah berjalan kaki di Dusun Aek Matio Kec Adianhoting Tapanuli Utara yang jaraknya hanya sekitar 4 km dari jalan Tarutung-Sibolga. Di sana, rata-rata keluarga hanya sekali makan nasi dalam satu hari dan satu kali makan ubi tanpa atau dengan lauk pauk,” kata Toga Sianturi yang juga anggota BKD DPRD Sumut itu.

Apakah rakyat di dusun itu dinamakan kurang makan, rawan pangan, gizi buruk atau apa pun namanya, situasi tersebut mengidentifikasikan bahwa di Sumatera Utara kemungkinan terjadinya tragedi Papua bisa terulang. “Ini kan baru wacana tentang dusun yang hanya berjarak beberapa kilometer dari ibukota kabupaten. Bagaimana dengan Dusun Batu Rongga dan puluhan dusun di Nias dan Nias Selatan yang jaraknya puluhan kilometer dari ibukota Kabupaten,” ujar Toga.

Sehubungan dengan itu, Toga yang sangat sedih ketika berbicara mengenai rakyat miskin itu mengharapkan, pemerintah di setiap kabupaten dan kecamatan agar lebih proaktif mengunjungi semua pelosok yang ada di daerahnya dan merekam semua kesulitan yang dihadapi penduduk, khususnya masalah pangan dan kesehatan. Pemerintah tidak perlu malu-malu mengakui bahwa di daerahnya terdapat dusun-dusun yang rentan terhadap kekurangan pangan, busung lapar, gizi buruk, dan berbagai jenis penyakit, khususnya penyakit menular.

“Barang siapa yang memberikan informasi tentang ancaman terhadap eksistensi kemanusiaan harus dihargai. Bukan seperti dalam tragedi Papua, pemerintah dalam hal ini Menko Kesra Abu Rizal Bakrie berusaha menutupi kelemahan pemerintah dengan mengatakan bahwa di Papua tidak terjadi kelaparan, yang terjadi adalah rawan pangan. Eufemisme itu kan tidak perlu, apakah meninggalnya puluhan orang disebabkan oleh busung lapar, rawan pangan atau penyakit tidak perlu dipersoalkan,” katanya.

Yang jelas, kata Toga puluhan orang meninggal di Papua akibat keterisolasian sampai Indonesia merdeka selama 60 tahun. Tak perlu dicari kambing hitam bahwa tragedi Papua sengaja diperbesar-besar oleh pihak-pihak yang mendukung Gerakan Papua Merdeka. “Kita bersyukur kepada semua pihak yang menjadikan tragedi Papua sebagai konsumsi publik nasional dan internasional. Jika mereka tidak berbuat perhatian besar terhadap Papua, kan tidak mungkin terjadi,” katanya.

Sekarang semua sibuk mengurusi Papua. Ada yang mengurusi lumbung pangan, sistem komunikasi, sarana transportasi, pelayanan medis, dan penyuluhan pertanian. Kenapa ini tidak dilakukan dari dulu sebelum korban jiwa berjatuhan, kata Toga.

Ditambahkan sebelum terjadi tragedi, sebaiknya dilakukan antisipasi dan tindakan. Sediakan payung sebelum hujan. “Inilah harapan saya kepada seluruh pejabat pemerintah di seluruh Indonesia khususnya di Sumut,” tandas Sianturi. (C4/y)
Sumber: hariansib Online, Selasa, 20 Desember 2005

Bupati/Wakil Bupati Nisel Terpilih Berterimakasih Pada "Semua Pihak"

Teluk Dalam (SIB)

Pasangan Calon Bupati Nias Selatan Periode 2005-2010 yang terpilih Fahuwusa Laia, SH, MH/Daniel Duha, SH, menyatakan pihaknya selaku kepala daerah pertama yang terpilih dari Pemilihan Kepala Daerah secara langsung (Pilkadasung), menyatakan siap bekerjasama dengan semua pihak untuk membangun Nias Selatan (Nisel) mulai dari ‘Nol’ untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui seluruh sektor pembangunan.

“Selaku kepala daerah pertama yang terpilih atas pilihan rakyat, kami siap membangun Nias Selatan mulai dari Nol dengan bekerja sama dengan semua komponen masyarakat. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, mulai dari unsur masyarakat, para pejabat, rekan-rekan dari partai politik (Parpol-Parpol), dsb”, ungkap Fahuwusa Laia kepada pers di Teluk Dalam, Senin (19/12).

Ucapan terimakasih itu antara lain disampaikan kepada Partai Persatuan Daerah (PPD), PKPI, Patriot Pancasila, dan kepada seluruh komponen masyarakat Nias Selatan. Pihaknya juga menyatakan terima kasih kepada Bapak Gubsu (Plt) Rudolf M Pardede, Pangdam I BB dan Kapoldasu yang telah berupaya semaksimal mengamankan Pilkada secara langsung sampai menugaskan anggotanya satu orang setiap TPS juga di KPPS, dan PKK juga di KPUD sehingga proses Pilkadasung dapat berjalan aman dan lancar.

Penjabat Bupati Nias Selatan Kolonel Purn TNI Drs Edy Aman Saragih, Unsur Muspida, KPUD Nias Selatan, DPRD Nias Selatan Panwaslih, juga Anggota TNI serta Tim Sukses/Tim Kampanye Paket No Urut 3 yang telah bekerja keras sehingga penyelenggaraan pemungutan suara tgl 30 Nopember 2005 berhasil dilaksanakan dengan baik.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Kabupaten Nias yang telah turut berpartisipasi sehingga terlaksananya dan suksesnya Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Secara langsung dari proses awal hingga penetapan KPUD Nias Selatan tgl 13 Desember 2005, kiranya Tuhan merestui Visi dan Misi kita untuk membangun Nias Selatan membawa sejahtera seluruh masyarakat Nias selatan kata Fahuwusa Laia, SH dan Daniel Duha, SH yang telah mendapat dukungan dari lapisan masyarakat dari berbagai Desa di seluruh Kabupaten Nias Selatan.

“Kepada rekan-rekan sesama balon Bupati Nias Selatan, kami juga siap bekerjasama untuk membangun Nias Selatan sehingga program kedepan mensejahterakan rakyat melalui pembangunan sektor-sektor prioritas seperti pembangunan jalan-jalan lintas desa, jembatan, gedung-gedung sekolah, fasilitas kesehatan, peningkatan perekonomian masyarakat apabila didukung oleh semua pihak maka kita yakin Kabupaten Nias Selatan akan maju bisa sejajar dengan Kabupaten lain”, katanya bersama Wakil Bupati terpilih Daniel Duha SH.

Beberapa komponen masyarakat Nias Selatan meminta kepada para calon kepala daerah yang tidak terpilih kiranya berjiwa legowo dan sabar karena hasil pemilihan yang telah dilaksanakan memang tidak ada rekayasa tetapi benar-benar hasil murni yang diberikan oleh masyarakat di berbagai pelosok dan itu merupakan berkat Tuhan kepada Bapak Fahuwusa Laia, SH, Mh/Wakil Daniel Duha, SH.

Sementara beberapa pimpinan Polsek/Ka Pos Polisi di Kabupaten Nias Selatan mengatakan bahwa benar-benar Fahuwusa Laia/Daniel Duha SH, mendapat suara terbanyak di setiap TPS dan itu telah dijaga ketat oleh Anggota setiap TPS sehingga tidak ada kecurangan sebagaimana kecurigaan yang disinyalir oleh calon Bupati/Wakil Bupati lainnya.

Sementara Ketua KPUD Nias Selatan Budiman Laia SE menjawab pertanyaan SIB Senin (19/12) menyatakan protes dari para calon ke Pengadilan akan tetap dilayani dengan berpedoman pada bukti-bukti, karena proses pemungutan suara juga telah dijaga oleh aparat keamanan setiap TPS sehingga berjalan aman tanpa ada kecurangan katanya singkat. (LZ/A14/c)

Sumber: Hariansib Online, Selasa, 20 Desember 2005

1.000 Desa Sumut Belum Tersentuh Telekomunikasi


Medan (SIB)

Sebanyak 179 pulau di Sumut hingga kini ternyata belum punya nama. Karenanya, Pemprovsu akan melakukan identifikasi pulau-pulau tersebut pada Januari 2006 mendatang.

Dari 179 pulau tersebut, 3 pulau di antaranya berbatasan langsung dengan negara asing, yakni Pulau Berhala seluas 2,5 kilometer persegi yang termasuk wilayah Kabupaten Deliserdang berbatasan langsung dengan Malaysia, Pulau Simuk berada di wilayah Nias Selatan berpenduduk 159 jiwa dan berbatasan dengan Samudera Hindia, serta Pulau Wunga termasuk wilayah Nias seluas 9 kilometer persegi.

“Saat ini sudah terbentuk tim yang diketuai Asisten Tatapraja Setdaprovsu. Dengan identifikasi sekaligus memberikan nama terhadap pulau ini diharapkan akan menjaga ketahanan nasional,” ujar Sekdaprovsu Drs H Muhyan Tambuse ketika menerima kunjungan Komisi I DPR RI diketuai Theo L Sambuaga di Kantor Gubsu, Senin (19/12).

Selain menyampaikan rencana identifikasi pulau-pulau tersebut, dalam kesempatan itu Sekdaprovsu juga menjelaskan bahwa saat ini masih terdapat sekitar 1000 desa atau 10 persen di Sumatera Utara yang belum terjangkau telekomunikasi. Bahkan masih ada daerah yang belum terjangkau siaran televisi karena termasuk “blank spot area”. “Kami berharap ini menjadi perhatian pemerintah pusat,” kata Sekda.

Dalam acara yang turut dihadiri Pangdam I/BB Mayjen Liliek AS, Danlantamal I Belawan Brigjen Marinir Halim, Karo Ops Poldasu DU Sitohang, dan unsur Muspida Sumut ini, juga disampaikan tentang langkah-langkah yang ditangani pihak kepolisian terutama soal pemberantasan premanisme, judi serta pemberantasan kejahatan narkoba, trafficking maupun peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman terorisme.

Mendengar pemaparan ini, Theo L Sambuaga menyatakan bahwa program Pemprovsu untuk mengidentifikasi terhadap 179 pulau di Sumut merupakan langkah yang amat strategis dan positif. Apalagi, dari 17.538 pulau di Indonesia saat ini terdapat sekitar 7000 pulau yang belum punya nama. “Padahal, mulai tahun 2009, pemerintah daerah diwajibkan menyetorkan PBB atas pulau-pulau tersebut,” katanya seraya menjelaskan tugas Komisi I yang berkunjung dalam rangka Reses DPR RI ini yakni untuk mengecek pelaksanaan tugas pemerintahan di lapangan, serta mendapatkan informasi dari masyarakat yang berhubungan dengan aspek nasional.

Selain mengidentifikasi, Theo berharap agar Pemprovsu juga mendata penduduk sekaligus menjaga agar tetap ada mobilitas dan aktivitas di pulau yang belum teridentifikasi ini, sehingga tidak dicaplok orang.

Sedangkan menyangkut langkah Poldasu yang hingga Juli 2005 telah menahan 800 preman dan 1200 tersangka dalam berbagai tindak pidana, Komisi I menyatakan bahwa ini menunjukkan komitmen Polda dalam membasmi kriminal dan diharapkan hal ini terus ditingkatkan. “Problem Poldasu soal terbatasnya ruang tahanan, termasuk tahanan narkoba akan kita sampaikan kepada pusat untuk dicarikan solusinya,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Sekdaprovsu juga menitipkan berbagai persoalan lain yang juga menghangat di Sumut belakangan ini, termasuk persoalan eks HGU PTPN II serta tidak adanya bagi hasil perkebunan untuk daerah. Namun, dari pertemuan ini, Komisi I DPRRI berkesimpulan bahwa Sumut masih tetap kondusif. (A12/p)
Sumber: harianSib Online, Selasa, 20 Desember 2005

IVD Australia Bangun Panti Asuhan "Tabita" Senilai Rp 2,5 Miliar di Nias


Gunung Sitoli, Nias (SIB)

Yayasan sosial Khatolik di Australia, International for Volunteer Development (IVD) segera membangun panti asuhan terpadu berfasilitas lengkap sekelas hotel senilai Rp2,6 miliar untuk menampung anak-anak para korban bencana alam gelombang tsunami 26 Desember 2004 dan gempa bumi tektonik 28 Maret 2005 lalu.

Pemimpin Yayasan IVD Paolo Cernushi didampingi Axer Fassio, menyatakan gedung panti asuhan terpadu dengan nama Panti Asuhan Tabita itu akan dibangun dengan konstruksi yang tahan gempa dengan target pengerjaan selama delapan bulan terhitung pekan pertama Desember 2005 ini.

“Dalam programnya. IVD Australia ini telah menetapkan proyek pembangunan panti asuhan sejenis di beberapa negara yang dilanda bencana tsunami dan gempa bumi, termasuk di Indonesia khususnya di Aceh (NAD) dan Nias ini,” ungkap mereka kepada SIB di Gunung Sitoli, Senin pekan lalu.

Mereka mengutarakan hal itu di sela-sela acara peletakan batu pertama pembangunan Gedung Panti Asuhan Tabita di Kelurahan Ilir kota Gunung Sitoli. Hadir pada acara itu Pastor Michael Projo selaku pemimpin ibadah (kebaktian) pembangunan, Ir Lukas Ishamu selaku pelaksana dan perencana proyek, para rohaniawati dari Kesusteran Santa maria dan Paroki Gunung Sitoli, beberapa pejabat mewakili Pemerintah Kabupaten Nias, dll.

Gedung Panti Asuhan Tabita senilai Rp2,6 miliar itu, katanya, antara lain dibangun dengan dua lantai yang akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti klinik kesehatan, kamar-kamar untuk anak-anak putra dan putri, ruang ibadah rutin, ruang pertemuan, ruang-ruang belajar, dsb. Pembangunan ini terlaksana setelah menempuh masa survei intensif dalam perolehan lahan maupun izin dengan kordinasi masyarakat dan pemerintah.

“Selain akan menampung anak-anak asuh dari kalangan warga korban bencana alam tsunami atau gempa, kami juga akan menampung anak-anak asuh dari kalangan keluarga tak mampu atau miskin daerah ini,” ujar Paolo Cernushi sembari menambahkan proyek itu terealisir atas kerja sama dan kepedulian warga Khatolik di Australia yang memiliki jaringan yayasan sosial secara internasional.

Di lain pihak, Bupati Nias Binahati B Baeha menyatakan pihaknya sangat bersyukur karena daerah Nias khususnya pada masa pascabencana ini telah menjadi perhatian berbagai pihak mancangera di samping tetap menjadi prioritas pembangunan dan pemulihan prioritas dengan segala kemampuan pemerintah yang ada.

“Adanya bantuan-bantuan pihak asing atau mancanegara untuk turut membangun Nias pascabencana, tentu akan mempercepat proses pemulihan pembangunan daerah ini. Soalnya, dana atau kekuatan pemerintah pusat maupun daerah kan selalu terbatas. Jadi, kita semua harus menyambut baik dan mendukung gerakan bantuan-bantuan itu. Lalu, kalau kita butuh bantuan lagi untuk mempercepat pemulihan, ya... tangan harus di bawah, yang punya uang kan mereka: para LSM atau yayasan donatur itu,” katanya menanggapi banyaknya pihak yang mengkritisi kinerja para LSM/donatur.

Belasan Gereja Gelar Natal Bersama Anak-anak Nias

Segenap anak-anak Nias saat ini dituntut peranannya sebagai barisan yang mampu mengubahkan Pulau Nias yang kini terbilang porak poranda akibat serangan bencana alam gelombang tsunami dan gempa bumi, menjadi Pulau Harapan (The Future of Island Hope) melalui transformasi di berbagai aspek.

Ketua Panitia Natal Bersama Jaringan Doa Anak Nias (JDAN) Abraham Teguh MK, mengemukakan semua pihak yang mengambil bagian aktif dalam pemulihan Nias pasca bencana ini agar berbuat sepenuh hati karena Tuhan melalui firmanNya di Alkitab menyatakan janganlah setengah-setengah hati melakukan sesuatu, kerena bila dilakukan setengah-setengah, maka tidak akan mendapat hasil apa-apa.

"Dengan bersatu hati untuk menjadi transformator pemulihan, kami percaya dan rindu melihat anak-anak Nias ini kelak akan tampil sebagai barisan perubahan agar Nias menjadi Pulau Harapan," ungkap Abraham Teguh MK ketika membacakan kata sambutannya, Jumat petang (16/12) pekan lalu.

Dia mengutarakan hal itu pada perayaan Natal Bersama Anak-anak Nias yang dihadiri sekira 10.000-an anak-anak yang terdiri dari para anak sekolah minggu (SM) dari puluhan gereja setempat, anak-anak Sekolah umum, dan anak-anak undangan lainnya. Acara ini terselenggara atas kerjasama PT Coca Cola Van Amatil Medan dengan sejumlah LSM pelayanan rohani Kristen dan belasan gereja di Nias.

Belasan gereja yang turut ambil bagian sebagai unsur panitia pada acara Natal bersama anak-anak Nias ini antara lain, Gereja Bethel Indonesia (GBI), Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Gereja Penyebaran Injil Indonesia (GPII), Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT), Gereja Kristen Sangkakala Indonesia (GKSI), Gereja Kristen Baithani (GKB), BNKP Indonesia, dll.

Perayaan Natal Bersama Anak-anak Nias dengan thema: Indah dan Sangat baik Hidup dalam Persatuan (Mzm 133: 1-3) ini sangat menarik perhatian warga khususnya anak-anak sehingga lapangan Merdeka Gunungsitoli tampak tak kuasa menampung hadirin anak-anak yang tumpah ruah hingga ke seberang pagar lapangan. Antusias anak-anak ini juga disebabkan keterlibatan pihak PT Coca Cola yang turut berpartisipasi membagikan minuman gratis kepada para anak tersebut.

"Ada sekira 100.000 anak-anak usia 5-14 tahun di Nias saat ini, dan semua anak-anak itu butuh perhatian agar mampu tampil sebagai generasi perubahan Nias di masa mendatang. Perhatian dan aksi-aksi sosial dari perusahaan-perusahaan dan lembaga lainnya memang sangat dibutuhkan saat ini," ujar beberapa orang tua murid di daerah ini sembari menyatakan terima kasih kepada pihak perusahaan Coca Cola yang rela turun ke Nias merayakan Natal Bersama Anak-anak Nias 2005 itu. (LZ/A14/y/r)
Sumber: Hariansib Online, Rabu, 21 Desember 2005

Jumat, 16 Desember 2005

Pemerintah AS Bantu Pembangunan Dua Gedung SD dan Dua Jembatan di Nias Selatan Senilai 1,3 Juta Dolar AS


Medan (SIB)

Masyarakat Nias, khususnya Nias Selatan (Nisel) merasa beruntung dan berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada pemerintah Amerika Serikat yang sangat peduli dengan dibangunnya dua gedung SD dan dua jembatan di sana.

Demikian diutarakan masyarakat Nisel melalui anggota DPRD Nisel Alio Jesche Fao, Daniel Duha dan Amano Fao kepada wartawan di Kantor Konsulat AS Medan di Jalan Walikota nomor 13 Medan, Kamis (15/12) sore. Hadir di sana Konsul Jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) di Medan Paul Berg didampingi Asisten Konsul, Rachma.

Alio Jesche Fao mengatakan masyarakat Nisel mengucapkan terimakasih atas bantuan pemerintah AS yang sudah membangun dua sekolah dan dua jembatan pasca gempa dan tsunami di sana, tepatnya dimulai awal Desember 2005.

Menurut Fao, kepedulian pemerintah AS begitu besar sampai mengirimkan personil militernya ke Nisel untuk membangun dua sekolah dan dua jembatan. “Kepedulian ini murni karena rasa kemanusiaan AS yang begitu tinggi,” katanya.

Amano Fao berharap dengan bantuan dari negara super power tersebut hendaknya masyarakat Nisel dapat terangsang untuk bangkit lagi membangun Nias. “Kami salut, setelah peletakan batu pertama, langsung militer AS diterjunkan untuk berpartisipasi membangunnya,” kata Amano.

Konjen AS di Medan Paul Berg mengatakan bantuan pemerintah AS di Nias, tepatnya di Nisel melalui program kerjasama antara militer AS dan TNI. Jadi ada puluhan militer AS di sana yang membantu bersama-sama dengan banyak TNI. “Batuan proyek militer AS ini merupakan pertama di Sumut dan terdapat di Nisel,” ujar Berg.

Menurut Berg, peletakan batu pertama pembangunan dua gedung dan dua jembatan pada 7 Desember dan total menghabiskan dana sekira 1,3 juta dolar AS. Konstruksinya dirancang bersama-sama Indonesia-AS yang disesuaikan dengan America Quality atau kualitas Amerika dan siap sekira tiga bulan yakni sekira Maret 2005.

Dikatakannya, kerjasama militer Indonesia-AS itu merupakan pertama pasca penarikan embargo kedua militer tersebut. “Kenyataan kerjasama dua militer AS dan Indonesia cukup bagus dengan pembangunan pasca tsunami,” katanya.

Ia menilai ada dua hal pokok pemikiran membangun Nias. Kerjasama dua militer AS-Indonesia merupakan janji yang sudah lama diutarakannya kepada Gubsu HT Rizal Nurdin semasa hidup. “Pak almarhum Rizal Nurdin sangat mencintai Nias. Saya sangat kagum dengan Pak almarhum Rizal yang sering berbicara tentang kebutuhan Nias,” paparnya.

Katanya, begitu pedulinya pemerintah AS terhadap Nias sehingga diapun meminta para LSM dan kontraktor yang didanai AS supaya lebih banyak peduli membantu Nias. Di Sumut diperkirakan ada 15-20 LSM didanai AS.

Ke depan, kata Berg, pihaknya juga berkonsentrasi membangun Nias dalam bidang kesehatan. Sebelumnya ada US Mercy suatu kapal AS yang didalamnya dilengkapi rumah sakit untuk membantu korban gempa dan tsunami di Aceh.

Keuntungan AS membantu Nias, kata dia, faktor kemanusiaan dan pihaknya ingin rakyat Indonesia makmur. Sistem demokrasi juga berjalan baik. Jadi dengan dukungan negara asing, bisa direalisasikan kemakmuran dan keamanan di Indonesia. “Kami akan terus dukung semua aspek yang ada di Indonesia,” tegas Berg. (A5/n)
Sumber: Harian SIB Online, Jum'at, 16 Desember 2005